Boyamin Saiman (3-Habis)

Saya Ini Banyak Dosa

publicanews - berita politik & hukumKoordinator MAKI Boyamin Saiman
PUBLICANEWS, JIKA ada guinness book of records penggugat terbanyak KPK, Boyamin Saiman-lah pemenangnya. Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) ini tercatat sudah 156 kali memperkarakan komisi antirasuah. Apapun ia gugat --dan tak hanya KPK, melainkan juga Kejaksaan dan Polri.

Laode M Syarif saat masih Wakil Ketua KPK pernah mengatakan, ada satu orang yang kerjaannya mempraperadilankan kasus-kasus KPK. "Saya sebut saja, biarin, Boyamin Saiman," ujar Laode, usai rapat dengan Komisi III DPR, Juni 2016.

Namun sesungguhnya hanya sekali pria kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, itu menang lawan KPK, yakni ketika Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan gugatannya agar KPK mematuhi putusan pengadilan dalam kasus Bank Century.

Terakhir, Boyamin menggugat KPK karena tidak melanjutkan perkara dugaan suap kepada (mantan) Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Menurutnya, masih ada kemungkinan tersangka lain, misalnya dari DPP PDIP.

Pria yang pernah bekerja di YLBHI itu juga menyebar foto-foto vila bekas Sekretaris MA Nurhadi di kawasan Ciawi, Bogor. Ada dugaan di sanalah sang buron dan menantunya Rezky Herbiyanto bersembunyi.

Apa sesungguhnya yang dicari pria yang tak lulus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini? Berikut petikan wawancara Hartati dan M Hartono dari Publicanews dengan pemilik Boyamin Saiman Law Firm tersebut di sebuah resto di Plasa Blok M, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu:


Anda seperti tidak pernah kehabisan energi menyerang KPK. Jangan-jangan memang ini alasan Anda mendirikan MAKI...
Enggaklah, hahaha... Ini (MAKI) kan kalau dikatakan hanya sampingan ya sampingan, dari sisi logistik loh ya. Saya punya kantor lawyer yang tidak pernah mau nangani kasus korupsi.

Kami-kami orang LBH dulu --saya tahun 2004 sudah LBH Semarang, lalu di YLBHI-- kan memang disuruh untuk punya fungsi sosial. Buyung Nasution juga punya fungsi sosial, Todung Mulya Lubis punya fungsi sosial. Terus Bambang Widjojanto punya konsorsium reformasi hukum, Dadang Sasongko masuk ICW.

Enggak takut bermusuhan dengan banyak orang, apalagi Anda sering terus terang menyebut nama tokoh?
Saya ini kan banyak dosa. Menebus dosa dengan cara ini, kalaupun harus 'meninggal', ya meninggal. Itu kan menuju keabadian.

Tidak khawatir keluarga ikut kena imbas?
Kalau toh saya harus berpisah dengan anak dan istri segala macem, bisa jadi mereka jadi hebat, mandiri dan sangat tangguh. Tapi ketika saya bersama mereka, mereka menjadi anak manja.

Saya itu belajar demo sudah tahun 1993. Mimpin demonstrasi, ditangkap, itu sudah biasa.

Saat masih di Solo, Anda sering bersama Widji Tukul?
Dia itu senior saya, sering diskusi dengan Widji Tukul di wisma mahasiswa, di gereja Katolik pernah, karena saya waktu itu sudah masuk di LBH Semarang. Tapi tampaknya saya dianggap tidak berbahaya barangkali karena saya aktivis internal kampus, ketua senat.

(Widji Tukul adalah penyair dan aktivis Partai Rakyat Demokratik yang 'hilang'. Kabar yang beredar, ia ditangkap oleh Tim Mawar. Boyamin juga pernah turut terlibat membela hak-hak warga yang tergusur pembangunan Waduk Kedungombo di Kabupaten Boyolali dan Grobogan, Jawa Tengah, sekitar 1989. Ia aktivis yang membela banyak kasus dengan beragam isu hak azasi dan penegakan hukum).

Anda pernah jadi anggota DPRD Solo, meskipun belum lulus kuliah. Bagaimana ceritanya?
Itu tahun 1997. Saat itu masih ada litsus (penelitian khusus, semacam screening 'bersih lingkungan' yang diterapkan Orde Baru; red), saya enggak lulus. Hahaha... dianggap pembangkang. Tapi saya tetap jadi anggota DPRD.

Anda lebih dikenal sebagai Koordinator MAKI ketimbang pemilik firma hukum. Tidak merugikan kantor Anda?
Law firm saya itu kan mengurusi jasa keuangan, klien tidak senang perkaranya dipublikasikan. Mereka butuh trust. Saya cari uang lewat kantor itu. Saya tidak pernah nangani kasus korupsi.

Anda belum lulus S1 dan tidak bergelar Sarjana Hukum. Kok bisa menangani perkara?
Ya, belum lulus S1. Saya ini aktivis, mahasiswa abadi haha...

(Boyamin kepentok saat membuat skripsi. Ia memilih isu pendirian partai politik pada masa Orde Baru. Secara UU saat itu hanya ada tiga parpol, yakni Golkar, PPP, dan PDIP. Makar hukumnya jika membuat parpol baru. Akhirnya skripsi tak kunjung selesai. Ketika Soeharto tumbang, Boyamin 'terlanjur' jadi anggota DPRD Solo pada 1997. Ia malu kembali ke bangku kuliah. Lalu mendirikan Boyamin Saiman Law Firm di kotanya).

Anda bukan sarjana hukum, bagaimana bisa beracara?
Belum pernah saya beracara di pengadilan, kalau konsultan hukum saya sering. Saya tahu diri. Tapi saya bisa tetap beracara, misalnya perkara-perkara besar seperti Antasari Azhar saya jadi penggugat kedua selaku warga negara Indonesia. Meskipun putusan hakim saya dikatakan tidak punya kepentingan hukum dan saya tidak diterima ya gak papa, kan yang penting induk saya diterima.

Bukan pengacara, bagaimana Anda meyakinkan klien?
Saya selalu ngomong sejak awal saya tuh belum lulus, bukan advokat. Bahwa saya punya kantor lawyer, dan saya adalah owner. Rata-rata calon klien tanya, ini kantornya pak Boyamin kan? Pak Boyamin selalu supervisi, mengendalikan segala macam? Oh iya, kalau itu pasti. Mereka percaya, ya sudah. Saya tidak menipu. Bagaimana saya selalu meminta orang beretika tinggi jika saya tidak punya etika.

Di law firm itu ada pengacaranya. Saya hanya owner, ada kantor yang di Solo dan di Jakarta ini.

Banyakkah klien firma hukum Anda?
Saya punya beberapa kontrak. Kalau bicara dari sisi kuantitas, cukuplah untuk bisa menghidupi kami dan juga menghidupi MAKI. MAKI itu tidak punya rekening.

MAKI itu sebetulnya siapa? Jangan-jangan cuma Anda sendiri.
Ada pendirinya, 9 orang. Ada pensiunan polisi, ada dosen. Ada juga lawyer, bahkan ada pula mantan preman yang dulu menguasai satu wilayah sekarang bertobat.

Deputi saya pak Maryono, yang di Surabaya itu bisa meng-handle untuk kawasan Indonesia timur dan juga ke Kalimantan. Jadi artinya Deputi saya jalan dan ada presidium lain yang mantan polisi dia getol kemana-mana untuk menggelorakan antikorupsi.

Saya sering komplain ke temen-temen, dulu kan komitmen giliran lima tahun sekali. Tapi temen-temen itu bilang udah kamu aja*** (Habis)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. WE_A @WandiAli23 Maret 2020 | 21:07:25

    Rakyat indonesia sangat membutuhkan banyak lagi seperti bung boyamin yg lainnya. Semoga sehat selalu ... Aamiin

  2. Anak Gaul @gakasikah23 Maret 2020 | 20:00:21

    lanjutkan kiprahnya pak. masih banyak nih pengemplang uang rakyat.

Back to Top