Boyamin Saiman (2)

Saya Tidak Bisa Nuduh Hasto, Tapi Ada Benang Merahnya

publicanews - berita politik & hukumKoordinator MAKI Boyamin Saiman. (Foto: Publicanews/mh)
PUBLICANEWS, JIKA ada guinness book of records penggugat terbanyak KPK, Boyamin Saiman-lah pemenangnya. Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) ini tercatat sudah 156 kali memperkarakan komisi antirasuah. Apapun ia gugat --dan tak hanya KPK, melainkan juga Kejaksaan dan Polri.

Laode M Syarif saat masih Wakil Ketua KPK pernah mengatakan, ada satu orang yang kerjaannya mempraperadilankan kasus-kasus KPK. "Saya sebut saja, biarin, Boyamin Saiman," ujar Laode, usai rapat dengan Komisi III DPR, Juni 2016.

Namun sesungguhnya hanya sekali pria kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, itu menang lawan KPK, yakni ketika Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan gugatannya agar KPK mematuhi putusan pengadilan dalam kasus Bank Century.

Terakhir, Boyamin menggugat KPK karena tidak melanjutkan perkara dugaan suap kepada (mantan) Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Menurutnya, masih ada kemungkinan tersangka lain, misalnya dari DPP PDIP.

Pria yang pernah bekerja di YLBHI itu juga menyebar foto-foto vila bekas Sekretaris MA Nurhadi di kawasan Ciawi, Bogor. Ada dugaan di sanalah sang buron dan menantunya Rezky Herbiyanto bersembunyi.

Apa sesungguhnya yang dicari pria yang tak lulus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini? Berikut petikan wawancara Hartati dan M Hartono dari Publicanews dengan pemilik Boyamin Saiman Law Firm tersebut di sebuah resto di Plasa Blok M, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu:

Anda percaya ada kepentingan politik di balik buronnya Nurhadi dkk? Kepentingan macam apa?
Karena banyak kotak pandora. Nurhadi banyak menyimpan rahasia yang berkaitan dengan penanganan perkara di masa lalu. Kalau ini kira-kira tertangkap, gitu kan bahasanya, khawatir membuka kotak-kotak pandora itu. Dia menjadi simbol MA, orang MA ini kan harus jadi dewa, enggak boleh ketemu orang (berperkara) kalau belum pensiun.

Apa pernyataan Anda tidak terlalu asumtif. Mantan Ketua MK Akil Mochtar dan Hakim Konstitusi Patrialis Akbar kita tahu tidak 'nyanyi' di persidangan?
Bisa saja pak Nurhadi tutup mulut dan mungkin bukan tipikal pak Nurhadi untuk buka-bukaan. Tapi orang-orang yang merasa dulu punya urusan dengan MA akan khawatir, lalu sukarela membantu pak Nurhadi untuk sembunyi, misalnya.

Itu sebabnya kemudian Anda membuat sayembara sindiran berhadiah iPhone bagi pemberi informasi keberadaan Nurhadi, juga Harun Masiku?
KPK kan pernah ngomong minta bantuan masyarakat untuk nangkep Nurhadi, Harun Masiku. Lah, kalau KPK saja udah angkat tangan, bagaimana masyarakat bisa nangkap? Wong orangnya ada di Jakarta KPK enggak nangkep.

(Boyamin meyakini kabar sesungguhnya Harun Masiku ada di kawasan PTIK, Kebayoran Baru, pada saat penyidik KPK hendak menggeledah. Namun, menurutnya, Ketua KPK Firli Bahuri tak mempercayai penyidiknya).

Anda juga menggugat KPK karena tidak menetapkan tersangka baru dalam kasus Harun Masiku. Memang siapa tersangka lain itu?
Harun Masiku itu tidak punya uang, kere (miskin; red) dia. Temannya (Boyamin menyebut nama; red) pernah dimintai membelikan tiket. Sekali dikasih, terus jengkel dan enggak mau ngasih lagi.

Apa hubungannya antara Harun yang kere dengan kepentingan politik tadi?
Kan keterangan dari Saeful (Bahri, tersangka yang disebut-sebut orang kepercayaan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto) uang suap itu dari Hasto kan, meskipun di BAP enggak ada. Kemudian dibantah segala macem.

Yang punya kepentingan (orang yang) sangat membela, bahkan belakangan masih membela, itu kan Hasto. Saya tidak bisa nuduh Hasto, tapi kalau bicara hukum itu kan ada benang merah petunjuk, terus juga berkelindan. Motif, kepentingan, itu kan selalu disambungkan kan gitu. Seperti kasus (mantan Deputi Gubernur BI) Miranda Gultom, itu kan dia tidak nyuap. Yang nyuap kan Nunun Nurbaiti (istri Wakapolri, ketika itu), dia dianggap punya kepentingan. Miranda bilang tidak tahu-menahu, tapi kan kenyataannya tetap dihukum bersalah.

Hukum itu tidak semata-mata bukti yang hitam di atas putih tapi bukti petunjuk kan ada. Tugas KPK untuk mengggali siapa yang membiayai, jadi bandarnya, Harun Masiku untuk membayar Wahyu Setiawan sampai Rp 900 juta.

Anda yakin Harun Masiku tidak punya uang sebanyak itu?
Menurut saya, Harun Masiku itu kere --dengan risiko saya digugat pencemaran nama baik hahaha...

Sederhana bagi KPK, cek saja rekeningnya, dia punya uang berapa saat-saat itu? Jangan-jangan model saya, paling Rp 5 juta, Rp 10 juta saldo rekeningnya tapi bergaya hahaha... Wong istrinya yang di Sulawesi dibelikan rumah subsidi. Artinya kalau memang dia kaya, bisa memberi Rp 900 juta ke Wahyu Setiawan, kan bisa membelikan istrinya rumah mewah.

Singkat saja, siapa menurut Anda di belakang Harun?
Ya kepentingan politisi tadi. Kalau bicara petunjuk tadi, Hasto yang sangat berkepentingan membela, sampai mengatakan bahwa Harun Masiku itu orang bagus, orang yang bersih, dan pengalaman hukumnya hebat.

Anda menyebut nama Hasto, apa kepentingan dia membela Harun?
Dalam politik itu kan ada namanya kepentingan faksi. Faksi itu kubu, kira-kira gitulah.

(Bak pakar politik, Boyamin lalu bercerita tentang faksi di tubuh PDIP, di luar Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Ia menyebut ada tiga faksi).

Pak Hasto Kristiyanto kalau bicara soal Harun Masiku kan sepertinya dia hebat, jam terbangnya tinggi di Jakarta. Riezky (Aprilia, yang terpilih sebagai anggota PAW DPR) mungkin hanya di Sumatera Selatan. Tapi harus diingat, Riezky anak Walikota, kakeknya juga tokoh politisi Orde Baru, pernah jadi ketua DPRD Sumsel segala macam.

Kalau head to head bisa jadi malah lebih hebat Riezky dalam kacamata politik daripada Harun Masiku.

Menurut saya, pak Hasto berkepentingan membela Harun Masiku semata-mata untuk faksi. Dia butuh orang-orang untuk memperkuat kubu. Kalau kira-kira anggota faksinya makin banyak artinya banyak resources yang bisa dibudidayakan, bukan dalam pengertian negatif ya, ini semata soal politik, politik faksi.

(Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto telah dua kali diperiksa KPK, ia membantah membayari suap Harun Masiku. Pengacara PDIP Donny Tri Istiqomah menegaskan uang suap untuk anggota KPU Wahyu Setiawan dari Harun Masiku yang dititipkan pada staf DPP PDIP Kusnadi)

Jika KPK 'membiarkan' Nurhadi dan Harun Masiku tetap buron, apa tidak menjadi preseden buruk bagi penegakkan hukum, tersangka lainnya nanti ikut-ikutan kabur?
Ini masih mending, kasus korupsi bisa sidang in absentia. Kalau bukan korupsi kan tidak bisa in absentia, habis membunuh orang sembunyi saja di hutan atau merantau sampai masa daluarsa kasusnya habis. Jadi orang berbuat jahat lalu melarikan diri.

Koalisi Masyarakat Sipil tak sepakat in absentia karena melihat KPK belum berupaya maksimal mencari para buron...
KPK sih belum pernah sidang in absentia, kemarin sih baru wacana misalnya Sjamsul Nursalim. Sah saja dalam pengertian Sjamsul Nursalim itu layak karena di luar negeri, enggak bisa diekstradisi.

Lah, ini (Nurhadi dan Harun Masiku) KPK belum melakukan apa-apa, baru DPO, belum red notice ke interpol. Setahu saya juga belum geledah apartemen, belum geledah rumah (Nurhadi) di Hang Lekir, belum rumah yang di Patal Senayan. Baru di vila, tiba-tiba kok mau nyidangkan in absentia. Artinya, ini kan mau menutupi ketidak sungguhan dia.

Ah, ini kan (KPK) enggak mau repot-repot, (lalu) sidang in absentia. Jadi seakan melempar bola panas ini ke pengadilan, biar pengadilan nanti mutus bersalah atau tidak bersalah.

Anda mengatakan pimpinan KPK era Firli Bahuri buruk. Seberapa buruk?
Kalau skala 1 sampai 10, ini 4. Karena ngeles. Meskipun pimpinan KPK dulu juga ngeles-ngeles dikit, tapi masih ada pertanggungjawaban secara logika dan hukum. Ini logika enggak nyambung, apalagi hukum. Masa (ditanya) kapan pak mau ditangkapnya, jawabannya selalu ya saya kejar sampai tertangkap. Garing gitu loh, hambar betul omongannya. (Bersambung)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah25 Maret 2020 | 09:50:41

    sayang harunnya belon ketangkep. bawa banyak. bukti nih. 🤣

  2. Cewek Kepo @ceweKepo23 Maret 2020 | 20:11:01

    Bapak gila di jalan yg benrr. sikat aja pak. Masih banyak yg dukung Bapak. Aku juga. wkwkwk

Back to Top