Berlian Ayu Pangestu

Kohati, Masih Pentingkah?

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Publicanews/credit to HMIYogyakarta)
Oleh: Berlian Ayu Pangestu

KORPS HMI-Wati (KOHATI), secara struktural sebagai sebuah badan khusus HMI yang bersifat semi otonom dan berfungsi sebagai wadah untuk membina dan mengembangkan soft skill para kader HMI-wati, baik dalam wacana sosial maupun dinamika pergerakan perempuan.

Di tingkat internal HMI, KOHATI berfungsi sebagai bidang keperempuanan. Di tingkat eksternal HMI, berfungsi sebagai organisasi perempuan. KOHATI sebagai badan khusus HMI mempunyai tanggung jawab dalam mengkoordinir potensi HMI-wati dalam melakukan akselerasi tercapainya tujuan HMI dalam mengembangkan wacana keperempuanan.

Hari ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember memasuki periode regenerasi Ketua Umum, baik itu adalah Ketua Umum Cabang maupun Ketua Umum KOHATI. Hal yang sangat disayangkan adalah perhari ini kandidat Ketua Umum KOHATI cabang masih belum jelas dan tampak. Mengingat dari awal pengambilan formulir dan pengembalian berkas bakal calon sudah ditutup.

Dalam forum Musyawarah KOHATI Cabang pada 7 Juni 2021, peserta forum menginginkan didatangkannya calon Ketua Umum oleh pengurus KOHATI Cabang sebelum memasuki pleno 2. Ini dianggap sebagai syarat jika forum ingin dilanjutkan. Lalu dimanakah calon Ketua Umum KOHATI Cabang Jember? Apa KOHATI cabang sudah tidak menarikkah ?

Oleh sebab itu, momentum regenerasi inilah yang sebenarnya ditunggu-tunggu, tapi yang sangat disayangkan sekali bahwa sampai tulisan ini dibuat tidak ada kabar siapa yang menjadi calon Ketua Umum KOHATI Cabang Jember. Ketika mencoba flashback, sepertinya ada yang tidak menarik dalam mengkontrol roda organisasi ini.

Branding Menjadi Tuntutan

Dengan gambaran tersebut, maka jelaslah bahwa image atau citra perlu dipenuhi untuk menarik simpati dari semua khalayak, salah satu caranya adalah untuk mem-branding KOHATI. Branding bukan melulu diperuntukkan bagi mereka yang ingin merebut jabatan publik ataupun yang bertarung dalam pesta Musyawarah KOHATI khususnya. Branding sebetulnya adalah kebutuhan dari semua orang yang mempunyai kepentingan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain melalui proses-proses komunikasi dari sebelumnya dan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan.

Perlu kita ingatkan diri kita untuk apakah kita melakukan branding atau tidak, maka setiap perilaku yang kita perlihatkan sehari-hari di masyarakat pada dasarnya adalah sebuah proses yang nantinya akan menjadi brand bagi kita di kemudian hari. Brand di sini artinya sebutan atau istilah yang dapat membuat persepsi orang lain tentang diri kita.

Sehingga, ketika ada kebutuhan untuk membangun kepercayaan orang lain, maka penting untuk mem-branding KOHATI dengan bagus. Supaya yang sudah mempersiapkan diri untuk menggantikan posisi tersebut mempunyai gambaran ke depan tentang arah KOHATI.

Dalam kompetisi, branding penting dilakukan secara terprogram dan terencana matang. Ini karena branding erat hubungannya dengan bagaimana orang lain memahami kita, bagaimana orang lain melihat kehadiran kita menjadi solusi ataukah tidak. Maka sangatlah penting untuk membangun branding khususnya KOHATI supaya regenerasi selanjutnya tertarik dan optimis.

Kesemua hal itulah yang menjadi alasan untuk dilakukannya branding supaya generasi selanjutnya tertarik untuk menggantikan posisi Ketua Umum maupun fungsionaris lainnya.
Demikian pandangan dari saya mengenai role model atau grand design yang tentu harus kita upayakan.***


Berlian Ayu Pangestu
Mahasiswi Sastra Inggris Universitas Jember

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top