M Ridha Saleh

Waktunya Menjadi Tangguh

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Foto: childcareaware.org)
Oleh: M. Ridha Saleh

PER 24 Maret 2020 ada penambahan sebanyak 107 kasus baru. Total korban positif COVID-19 berjumlah 686, diprediksi angka tersebut akan terus bertambah.

Pengumuman itu kesannya seperti pengumuman di bursa saham saja, tapi itulah trasparansi. Jika di bursa saham diketahui siapa yang untung dan siapa yang akan rugi, pada korban COVID 19 tidak demikian. Pemerintah memang tidak mengumumkan korban positif COVID 19 dari latar belakang kelas sosial mana saja yang terpapar itu, alasanya untuk menjaga spekulasi dan kepanikan terhadap warga.

Informasi siapa saja korban positif COVID 19 ini hanya bisa kita ketahui dari media dan media sosial, itupun setelah ada konfirmasi dari yang berwewenang, seperti dokter dan tenaga medis, pejabat nasional dan daerah. Bahkan diantara mereka yang menjadi korban positif COVID 19 sudah mendahuli kita, kita patut berduka cita yang mendalam.
Coronavirus ini patogen yang bekerja dengan brutal, tidak mengenal suku, agama, ras, golongan, usia, kelas sosial, jenis kelamin bahkan mereka yang menganut ideologi tertentu, jika lengah akan libas.

Sementara secara medik, untuk melawan dan membunuh virus tersebut tidak boleh dengan cara serampangan, harus melalui suatu informasi dan penelitian ilmiah bahkan dengan suatu rekayasa sosial, disiplin dan kesadaran terbaik. Yang pasti hingga saat ini untuk melawan coronavirus tersebut, pengetahuan kita baru sampai tahap pencegahan dan perawatan serta pemulihan.
Padahal keunggulan manusia saat ini, tidak untuk melebih-lebihkan realitasnya, dengan teknologi yang diciptakan mampu dengan cepat menyelesaikan masalah dalam setiap pekerjaan, makanan, perawatan kesehatan, perumahan, dan pendidikan. Jika kemungkinan pekerjaan itu tidak dapat direalisasikan, itu hanya karena dicegah oleh spekulasi besar-besaran oleh modal besar.

Yuval Noah Harari telah menulis dalam perang melawan coronavirus, Humanity Lacks Leadership, adalah pandangan yang harus dibaca dan dimengerti, telah memberikan gambaran tentang pandemi sepanjang sejarah umat manusia sekaligus menunjukkan kemajuan berkat sains dan teknologi yang telah dibuat manusia. Harari menyimpulkan dalam artikelnya dengan frasa berikut:
Kemanusiaan telah memenangkan perang melawan epidemi hanya karena dalam perlombaan senjata, sementara antara patogen dan dokter, patogen bergantung pada mutasi buta, dokter mengandalkan analisis informasi ilmiah.

Di tengah-tengah gempuran COVID 19 terhadap dunia, Harari juga mempertanyakan kepemimpinan dan solidaritas global. Di masa krisis saat ini, dunia menghadapi dua pilihan penting. Yang pertama adalah antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan warga. Yang kedua adalah antara isolasi nasionalis dan solidaritas global, dan Harari menyimpulkan: “Kemanusiaan perlu membuat pilihan. Apakah kita akan menempuh jalan perpecahan, atau akankah kita mengadopsi jalan solidaritas global."

Apa yang dipertanyakan oleh Harari tentang solidaritas global tentu tidak sederhana dalam konteks melawan COVID 19, karena solidaritas global yang dibangun selama ini hanya current solidarity, dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa alam seperti bencana alam maupun yang non alam. Selebihnya solidaritas global dikotak-kotakkan atas dasar kelompok kelas dan agama bahkan yang lebih dominan atas dasar kepentingan ekonomi politik. Lihat saja Uni Eropa tidak bisa berbuat banyak bahkan memberikan solidaritas sekalipun sulit untuk Itali.

COVID 19 telah menjungkirbalikan kebiasaan sosial, perhitungan ekonomi, spekulasi politik bahkan melampau tradisi kebudayaan kita. Coronavirus ini juga bekerja untuk menguji sejauh mana kepemimpinan politik dan struktur kenegaraan bahkan hingga struktur sosial kita bekerja. Alhasil coronavirus sedang menantang kembali kemampuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, ekonomi politik serta solidaritas sosial budaya dunia.

Hanya dengan hitungan bulan virus ini telah menyebar ke seluruh pelosok dunia tanpa meninggalkan asal mula virus ini menjadi pandemik dunia, bahkan diperkirakan virus ini akan terus menyebar secara membabibuta, dan mungkin akan menyebar kembali ke asalnya. Bahkan saat ini di tengah-tengah kita menghadapi coronavirus, diduga ada virus baru. Sebuah laporan Global Times mengatakan bahwa seorang pria dari Provinsi Yunnan di Cina meninggal karena virus Hanta di dalam bus ketika menuju ke provinsi Shandong.

Dilansir dari www.cdc.gov, virus ini menyebar terutama dari tikus. Lebih lanjut dikatakan bahwa infeksi dengan salah satu dari virus hanta dapat menyebabkan penyakit virus hanta pada manusia. Virus hanta di Amerika dikenal sebagai virus hanta "Dunia Baru" dan dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS).

Beberapa negara yang menjadi kiblat perekonomian dunia sudah menutup rapat-rapat (lockdown) kota bahkan negaranya, yaitu dengan melarang setiap orang termasuk barang dalam waktu tertentu untuk keluar dan masuk karena kondisi darurat. Ada pula memberlakukan pembatasan sosial (social distancing) seperti Indonesia, tujuannya untuk mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain, mengurangi kontak tatap muka langsung. Langkah ini termasuk menghindari pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti supermarket, bioskop, dan stadion dan tempat-tempat keramaian lainya. Semua langkah ini bukan berarti tanpa masalah khususnya bagi kelas bawah yang menggantungkan hidupnya dari situasi perputaran ekonomi politik yang berpihak.

Tapi ada yang mearik dari kelemahan brutalisme COVID 19, kelalaian negara dan korporasi selama ini, serta mengalahkan kampanye dan aksi masyarakat sipil dunia tentang perubahan iklim, yaitu Karena COVID 19, dampak dari lockdown yang dilakukan Italia ternyata tidak sepenuhnya negatif. Badan Antariksa Eropa mengatakan lockdown memiliki efek positif besar pada emisi CO2. Satelit ESA's Sentinel-5P memperlihatkan konsentrasi nitrogen dioksida di Italia yang diproduksi oleh mobil dan pembangkit listrik mengalami penurunan drastis sejak tanggal 1 Januari hingga 12 Maret 2020. Sama halnya dengan Italia, menurut pantauan NASA dan Badan Antariksa Eropa kualitas udara di China telah meningkat menjadi lebih baik secara signifikan sejak 1 Januari 2020.

Dalam kontek COVID 19, sesuatu yang kita citakan bisa saja terjadi, sebaliknya sesuatu yang kita hindari juga mungkin akan terjadi bahkan bisa lebih buruk faktanya, misalnya di Indonesia, cita-cita pertumbuhan ekonomi mencapai 6 -7 persen, hanya karena COVID 19 diperkirakan akan ke 4 persen, bahkan skenario terburuknya 0-2 persen, itu kata Menteri Keuangan.

Coronavirus ini juga mengandung unsur politik, tapi jangan dipolitisasi, tinggal di rumah dan menjaga jarak fisik antar sesama adalah rekayasa sosial politik yang harus kita tempuh untuk melawan COVID 19 ini, karena ada beban yang ditanggung bersama, apalagi mereka yang hidup mengandalkan di sektor informal, serba dilematis, kita butuh cara-cara yang etis untuk melakukan penertiban sosial dalam rangka melawan coronavirus ini.

Ketangguhan kita di rumah dan menjaga jarak sedang diuji. Menjaga jarak bukan berarti perpecahan, menjaga jarak juga adalah solidaritas yang akan menjadi kemenangan tidak hanya terhadap coronavirus, tetapi juga terhadap semua epidemi dan krisis di masa depan yang mungkin menyerang umat manusia.

M Ridha Saleh
Pemerhati lingkungan

*) Konten di Rubrik Publicana merupakan tulisan dan opini pengirim yang dimuat oleh Redaksi Publicanews.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top