Belajar dari Waduk Pluit

publicanews - berita politik & hukumWaduk Pluit Jakarta (Foto: Antara)
Oleh: Putut Trihusodo

KETIKA Gubernur Anies Baswedan menggelar acara tour de banjir, Presiden Jokowi blusukan ke Waduk Pluit. Anies seperti sedang mencoba menangguk simpati, Jokowi mencari solusi. Sebagai Mantan Gub DKI, Jokowi tahu apa yang dilakukan di Waduk Pluit : memeriksa ketinggian air waduk, kondisi pompa, kesiapan alat berat (escavator) dan permukaan waduk.

Tak tampak enceng gondok di air waduk. Menurut petugas, ke-10 pompa air yang ada (kapasitas total 49 m3 per detik) berfungsi. Alat berat pun bisa digerakkan. Ketinggian muka air waduk minus 145 cm, hal yang dipertanyakan Jokowi, mengapa tak dibikin lebih rendah biar lebih siap menampung limpasan. Petugas bilang SOPnya begitu.

Thank you, Bu Susi Pudyastuti, yang sudah menyindir kondisi waduk yang sedimennya bertumpuk dan enceng gondok yang meraja lela. Sindiran Susi (Juni lalu, sewabtu masih jadi menteri), melalui twitter, membuat Pemprov DKI terkesiap. Waduk langsung dikeruk.

Waduk Pluit mengemban peran penting untuk menjaga sebagian Jakarta Pusat dan Jakarta Barat bebas dari genangan banjir. Puluhan kelurahan tergantung padanya. Blai dari kawasn Premium Jalan Thamrin, Menteng, Monas, Istana Presiden, sebagian Tanah Abang, Kebon Kacang, Petojo Cideng, Mangga Besar, Pinangsia, Glodok, Kawasan Kota lama, sebagian Kelurahan Duni, Angke, seputaran Pluit, dan sejumlah lainnya bergantung pada ketinggian muka air di Waduk Pluit. Luas total tidak kurang dari 5.000 hektar dan merupakan pusat pemerintahan serta bisnis.

Wilayah luas itu berada di dataran rendah. Tanah Monas misalnya, saat ini elevasinya hanya sekitar 4,5 meter dari permukaan laut. Makin ke Utara, ke arah Kota Tua, elevasinya semakin rendah. Kawasan ini tak punya banyak pilihan. Posisi Kanal Banjir Barat lebih tinggi sehingga praktis air limbah dan limpasan hujan tak bisa dialirkan ke sana. Salah satu pilihan yang ada ialah Kali Ciliwung lama yang mengalir dari pintu air Manggarai.

Sejak melintasi Kawasan Menteng (di dekat Bioskop Megaria) Kali Ciliwung lama ini telah dinormalisasi. Badan sungainya menyerupai kanal, dan di pelataran Masjid Istiqlal, sungai ini bercabang. Yang kekiri melintas diapit oleh Jalan Veteran dan Jalan Juanda dan di Harmoni belok ke kanan diapit Jalan Hayam Wuruk dan Gajahmada. Kanal ini menuju ke arah Kota Tua.

Cabang satunya mengalir melintasi ke Pasar Baru dan kemudian belok ke Jalan Gunung Sahari , untuk nanti di Marina Ancol. Sebagian orang masih menyebutnya Kali Ciliwung. Tapi, di situ elevasinya sudah terlalu rendah hingga saat air laut pasang debitnya terbatas. Tak jarang kanal ini meluap menggenangi Jalan Gunung Sahari dan sekitarnya.

Dalam kondisi semacam ini, Kanal Hayam-Wuruk Gajah Mada yang membelah kawasan kota (sebutan untuk wilayah Glodok, Mangga Besar, Pinangsia, dan sekitarnya) lebih bisa diandalkan setelah dibedah 2014 lalu. Meski alirannya bebelok-belok, aksesnya ke Waduk Pluit lancar. Apalagi, muka air waduk itu memang diatur lebih rendah dari muka air laut.

Kawasan rendah yang lain dilayani dua kanal utama lain, yakni Kanal kali Krukut dan Kanal Kali Cideng. Kanal Kali Krukut itu memanfaatkan jejak kali Krukut lama yang “lenyap” karena terpotong oleh Kanal Banjir Barat. Kanal ini berawal dari selokan kecil sisa sungai Krukut lama ke kolam penampung yang tak jauh dari Hotel Millinium, Tanah Abang. Dari sanalah kanal dibangun dengan nama Kanal Kali Krukut.

Satu kanal lainnya dibangun di atas jejak Kali Cideng lama (Sungai Cideng lama hilang pasca Kanal Banjir Barat dibangun). Pangkalnya ada di belakang Hotel Indonesia, menjadi kanal lebar yang menyusur Jalan Kebon Sirih dan bercabang : ada aliran menuju Kanal Cideng, da cabang lainnya menyusuri Jalan Abdul Muis, dan seterusnya mengalir ke arah kota tua.

Di Petojo Utara, Kanal Cideng dan Krukut itu bertemu (smengikuti jalur aslinya dulu), lalu mengalir ke utara, dan sebelum masuk kota tua, kanal ini bercabang lagi, menjadi dua kanal yang disebut Kali Baru Barat dan Kali Baru Timur. Keduanya bermuara di Waduk Pluit.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memang mewariskan fasilitas tata kelola air yang rumit, lantaran dibangun secara tambal. Kanal-kanal utamanya saling terkoneksi dan menjadi tumpuan bagi segala got, selokan, dan gorong-gorong. Pada era kolonial dulu, kanal-kanal besar itu bermuara di Pelabuhan Sunda Kelapa dan sebagian di Muara Baru, pantai berawa yang kini menjadi bagian mulut Waduk Pluit.

Adalah Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno yang mendukung gagasan pembangunan Waduk Pluit ini. Sebagai insinyur sipil-arsitektur, ia paham betul, bahwa kota Jakarta berada di daratan yang rendah dan akan punya problem dengan drainasenya. Acuannya ialah sistem polder di Belanda, dengan kolam-kolam penampungan air di bawah muka air laut. Karena tidak bisa masuk ke laut dengan gravitasinya, air harus dipompa. Agar air laut tak melimpas ke kolam, polder tersebut harus dikelilingi tanggul yang kokoh.

Dengan konsep itu, Waduk Pluit dibangun di awal 1960-an. Kawasan Pluit yang berawa itu diurug, dan di bagian lain dikeruk untuk waduk. Luas waduk ditetapkan 80 ha. Presiden Soekarno lengser, namun proyek ini dilanjutkan oleh Gubernur Ali Sadikin. Selesainya 1973 dan sejak itu berfungsi menampung jutaan m3 air limbah dan limpasan air hujan dari hulu (catchment area) di jakarta Pusat dan Barat.

Namun, tak mudah menjaganya. Waduk Pluit megalami pendangkalan. Sekitar 20 hektar diduduki oleh warga secara tidak sah. Pemeliharan sulit menjaganya karena waduk dikepung bangunan liar.

Bencana pun datang pada Januari 2013. Setelah Jakarta, Depok, Bogor dan sekitarnya diguyur hujan lebat lima hari berturut-turut, datang hujan ekstrim 17 Januari 2013. Di Jakarta Selatan intensitasnya 170 mm di Jakarta Selatan, di Jakarta Pusat 280 mm, bahkan di Jakarta Utara 330 mm. Sungai-sungai meluap.
Tanggul Kanal Banjiir Barat di dekat Stasiun Sudirman jebol. Bunderan HI dan sekitarya pun terendam. Air melimpas ke Kanal Cideng dan Krukut. Sialnya, kondisi Waduk Pluit amat buruk. Kedalaman waduk tinggal 1-2 meter akibat sedimentasi dan tidak terurus.

Puncak deritanya terjadi ketika pompa-pompa di situ tidak berfungsi. Ketinggian air di Waduk Pluit plus 100 cm. Air meluap. Pluit terendam berhari-hari. Sebagian Kawasan Tanah Abang, Petojo, Cideng, Mangga Besar, terendam. Halaman istana digenangi air.

Pengalaman buruk ini memberi suntikan keberanian bagi Guberur Joko Widodo dan Wakilnya Basuki Tjahya Purnama (Ahok) untuk bertindak. Pasca banjir, ribuan warga yang menempati bantara Waduk Pluit digusur. Tak kurang dari 2,5 juta m3 lumpur dikeruk dari dasar waduk, membuat kedalamannya mencapai 3–5 meter. Kanal Cideng, Kanal Krukut dan Sungai Ciliwung dinormalisasi. Ribuan bangunan dibongkar paksa.

Pengalaman buruk 2013 itu, bagi Jokowi mengajarkan satu hal : jangan main-main mengelola Waduk Pluit. Meleset sedikit saja, bisa serius akibatnya. Tak heran bila sewaktu meninjaunya, Presiden Joko Widodo mengamati betul kondisi sidimentasinya, lalu alat beratnya dan pompa air.

Jakarta tumbuh di atas tanah dan topografi yang tidak ideal. Yang diperlukan adalah solusi engineering yang pragmatis. Jakarta tak memerlukan program-program yang ilusional.

Putut Trihusodo - Wartawan Senior

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top