Kelompok Dukungan untuk Yuli

Pekerja Indonesia Ditahan Gara-gara Menulis Demo Hongkong

publicanews - berita politik & hukumYuli Riswati saat mendapatkan penghargaan Taiwan Literature Award for Migrants. (Foto: Taiwan Literature Award for Migrants)
Oleh: Kelompok Dukungan untuk Yuli

ATAS nama aturan imigrasi, pemerintah Hong Kong secara politis menekan sang pekerja-penulis Yuli Riswati, terkenal di publik Hong Kong sebagai “Pekerja domestik-penulis Indonesia”. Ia telah bekerja sebagai pekerja domestik di sana selama 10 tahun. Ia sering mengirim tulisannya ke SUARA, koran Indonesia yang terbit di Hong Kong dan tempat kerja Veby Mega Indah, reporter Indonesia yang mata kanannya kini buta karena ditembak oleh polisi saat meliput protes.

Yuli Riswati adalah penulis yang telah memenangkan beberapa penghargaan sastra. Tahun lalu, ia juara di ajang Taiwan Literature Award for Migrants. Ia juga dikenal baik oleh kalangan pekerja domestik migran Indonesia berkat halaman Facebook “Independen Konseling BMI” yang
dibuatnya, juga berkat kerja-kerja sukarela menulis untuk media online independen “Migran Pos”.

Sejak meletusnya protes keras rakyat Hong Kong menolak RUU-Ekstradisi, Yuli telah menunjukkan kepeduliannya. Ia mendatangi berbagai aksi rakyat dan memotret serta menuliskan apa yang tengah terjadi di sana. Ia membaca berita-berita lokal dan internasional tentang Hong Kong untuk memahami apa yang tengah terjadi dan mewartakannya kepada
sesama orang Indonesia. Yuli tidak ingin orang-orang Indonesia di Hong Kong ketinggalan berita, atau lebih parah lagi, menjadi terusik, khawatir, bahkan terintimidasi oleh pesan-pesan dan berita palsu.

Akan tetapi, setelah munculnya berita tentang Yuli dan posisinya yang mendukung rakyat Hong Kong, pada 23 September 2019 petugas Departemen Imigrasi Hong Kong malah menangkapnya di tempat tinggalnya, yang juga tempat kerjanya sebagai pekerja domestik. Pada 4 November 2019, otoritas Pengadilan Biasa (Magistrates’ Court) Sha Tin memutuskan “tidak menawarkan bukti” (“offer no evidence”), yang dengan kata lain, Yuli tidak dihukum
karena telah tinggal di Hong Kong melebihi waktu yang ditentukan (overstay).

Namun demikian, yang mengejutkan, Departemen Imigrasi memindahkannya ke Pusat Imigrasi Castle Peak Bay (CIC, Castle Peak Bay Immigration Centre) dan menahannya di sana dengan alasan Yuli tidak memiliki teman dan tempat tinggal di Hong Kong. Hal ini tidak benar. Majikannya telah berkali-kali meminta Departemen Imigrasi untuk memberi izin pada Yuli agar dapat memperpanjang visanya dan melanjutkan kerja sebagai perawat lansia.

Yuli memegang kontrak kerja 2 tahun bersama majikannya mulai 12 Januari 2019. Paspornya kedaluwarsa (habis jangka waktunya) pada Agustus 2019, sementara visa kerjanya berlaku
sampai 27 Juli 2019. Yuli lupa memperpanjang visanya setelah ia memperbaharui paspornya pada 24 Juli 2019. Dang, ketua Federasi Hong Kong untuk Serikat Pekerja Domestik (FADWU, Federation of Domestic Workers Unions) sangat terkejut akan kondisi yang menimpa Yuli. Ia mengatakan, “Adalah hal yang cukup umum ketika pekerja domestik migran lupa memperpanjang visanya. Mereka selalu tahu betul bahwa kontrak kerjanya berjangka 2 tahun sesuai Kontrak Standar. Mereka tidak terlalu memerhatikan visa. Mereka tidak bisa, atau tidak terlalu menguasai bahasa Inggris untuk memahami segalanya. Mereka sangat sibuk bekerja 24 jam dari Senin sampai Sabtu. Biasanya, jika diketahui bahwa visa pekerja telah kedaluwarsa, selama masih ada kontrak yang berlaku, majikan hanya perlu mengkonfirmasi bahwa mereka masih bersedia memperkerjakan si pekerja dan menjelaskan lewat surat mengapa si pekerja luput memperpanjang visa. Dalam kasus seperti ini, Imigrasi selalu memperbolehkan pekerja
memperpanjang visanya tanpa kerepotan berkepanjangan. Saya tidak pernah melihat kasus seperti ini, di mana Imigrasi sampai mendatangi pekerja ke tempat tinggalnya dan
menangkapnya hanya gara-gara visanya habis masa berlaku.”

Departemen Imigrasi memperlakukan kasus visa Yuli yang belum sempat diperpanjang dengan berlebihan. Sejak Yuli ditahan, majikannya telah berulang kali meminta Imigrasi untuk
memperpanjang visa Yuli dan dapat memberi izin agar ia dapat kembali memperkerjakan Yuli. Majikannya juga memberi izin pada Yuli untuk tinggal di rumahnya. Baru pada 8 November 2019 Yuli diperbolehkan mengajukan aplikasi perpanjangan visa, pada saat ia berada dalam tahanan CIC. Akan tetapi, tiga hari kemudian, Departemen Imigrasi menerbitkan Removal
Order (perintah pemulangan), dan untuk ini Yuli naik banding. Para pengacara yang mewakili Yuli telah meminta Departemen Imigrasi untuk menerbitkan “Recognizance”
(penangguhan) sehingga Yuli dapat menunggu status aplikasi visanya tanpa perlu ditahan di CIC. Akan tetapi, Departemen Imigrasi menolak permintaan ini dan sangat lambat merespon pertanyaan-pertanyaan dari para pengacara. Yuli masih ditahan.

Menurut Fish Ip, koordinator regional untuk International Domestic Workers Federation (IDWF): “Apa yang dihadapi Yuli ialah kejanggalan praktik dari Departemen Imigrasi, yang kemungkinan melanggar hukum. Jelas ada tekanan politik terhadap Yuli karena ia menulis dan menunjukkan dukungannya pada demonstran Hong Kong.”

Terhitung sampai hari ini, Yuli telah ditahan selama 28 hari. Pada 28 November, ia diberitahu bahwa pengajuan bandingnya terhadap Removal Order ditolak, dan bahwa ia akan dideportasi dari Hong Kong. Selama ditahan Yuli mengalami demam dan merasa tidak sehat, namun selama itu setiap hari ia hanya diberi sebuah pil yang tidak diketahui apa jenisnya. Yuli kerap muntah-muntah dan pilek, namun tidak difasilitasi tindakan medis yang layak. Ia tidak tahu sampai kapan akan ditahan.

Pada 29 November 2019, petugas imigrasi, SK Cheng, memaksa Yuli untuk membatalkan (withdraw) aplikasi pengajuan visanya. “Petugas itu bilang, kalau saya tidak mau ditahan di CIC, saya harus membatalkan aplikasi visa dan saya bisa kembali ke Indoensia. Tapi saya tidak mau menarik aplikasi saya. Saya menentang petugas imigrasi sepanjang pagi sampai saya demam dan merasa tidak sehat. Akhirnya, saya menulis bahwa saya membatalkan aplikasi visa karena saya ditahan terlalu lama dan tidak tahu kapan akan dibebaskan. Petugas itu bilang saya tidak bisa menulis seperti ini karena para pengacara akan
mempermasalahkan ini. Akhirnya lagi, meski bertolakbelakang dengan keinginan saya, saya terpaksa menulis bahwa saya menarik aplikasi visa saya, dan saya akan kembali ke Indonesia untuk mengurus aplikasi visa dari sana.” Yuli menangis saat menceritakan situasinya pada teman-teman yang menjenguknya.

Yuli berharap Imigrasi dapat memperlakukannya dengan adil dan sesuai prosedur hukum. Ia ingin visanya dapat diperpanjang agar dapat menyelesaikan kontrak kerjanya, dan berharap tidak ada lagi tekanan politik atau penahanan terhadap dirinya.

Kelompok dukungan untuk Yuli
(dibentuk oleh teman-temannya)

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Iis_osya @iis_osya03 Desember 2019 | 10:28:28

    Memang politk susah dikendalikan.
    Ya mudah2an semua nya bisa kembali spt biasanya.

    Tdk ada duskriminasi dan tindakan semena2x.

Back to Top