UU Cipta Kerja

Moeldoko Puji Jokowi Sebagai Pemimpin Tidak Takut Ambil Risiko

publicanews - berita politik & hukumPresiden Joko Widodo dan Kepala KSP Moeldoko. (Foto: Instagram/@dr_moeldoko)
PUBLICANEWS, Jakarta - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan Undang-undang Cipta Kerja merupakan langkah pemerintah yang memunculkan risiko dan perdebatan. Presiden Joko Widodo berani mengambil risiko demi kesejahteraan rakyat.

"Presiden Jokowi memilih untuk tidak takut mengambil risiko. Mengambil jalan terjal dan menanjak. Tidak takut menjadi tidak populer dengan mengorbankan kepentingan rakyatnya," kata Moeldoko dalam keterangan pers, Sabtu (17/10).

Mantan Panglima TNI tersebut menjelaskan beleid sapu jagad tersebut mendesak dilakukan di tengah penambahan 2,9 juta angkatan kerja baru, termasuk dampak pandemi. Disahkannya beleid tersebut akan melahirkan iklim lapangan kerja dengan memotong hyper-regulation yang menghambat penciptaan lapangan kerja.

Menurut Moeldoko, lewat UU Cipta Kerja pemerintah mengupayakan jaminan lebih baik tentang pekerjaan, pendapatan, dan jaminan sosial.

"Coba bayangkan, sampai saat ini ada 33 juta orang yang mendaftar menjadi peserta Kartu Prakerja. Betapa besar kebutuhan lapangan kerja saat ini. Melalui UU Cipta Kerja ini, membuka kesempatan yang luar biasa bagi pengusaha kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi," ia menjelaskan.

Menurut Moeldoko UU Cipta Kerja akan terdapat 35 Peraturan Pemerintah (PP) dan 5 Peraturan Presiden sebagai aturan pelaksana. Pada tahap ini, ia meminta kalangan pekerja dan buruh untuk menyampaikan aspirasi.

"Kami memberikan kesempatan dan akses pada teman-teman pekerja dan buruh untuk ikut memikirkan bagaimana mereka menanggapi ini nantinya. Bagaimana instrumen ini bisa diandalkan sebagai penyeimbang," Moeldoko menambahkan.

Undang-undang Cipta Kerja yang disahkan DPR, Senin (5/10), sudah diserahkan kepada Presiden Joko Widodo untuk mendapat legitimasi sebagai undang-undang. Beleid ini mendapat penolakan sejak awal. Aksi massa pekerja, buruh, dan mahasiswa masih terus terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah17 Oktober 2020 | 21:06:43

    Sepakat pak. Yg lain gak berani kalau tampil gak populer.

Back to Top