Drama Djoko Tjandra

Tommy Sumardi, Penyuap Jenderal yang Terlindungi

publicanews - berita politik & hukumIrjen Napoleon Bobaparte, tersangka penerima suap dari Djoko Tjandra melalui pengusaha Tommy Sumardi (Foto: voi)
PUBLICANEWS, Jakarta - Tagar #AdaApaKabreskrim bertengger di puncak cuitan linimasa Twitter pada akhir pekan ini, Sabtu (12/9). Ribuan warganet menuntut ketegasan petinggi Polri menindak pengusaha Tommy Sumardi agar diseret masuk kerangkeng.

Desakan serupa dilakukan Forum Indonesia Bersatu (FIB) di depan markas Polri di Jalan Trunojoyo, Jumat kemarin. Massa yang diangkut dalam beberapa bus itu meneriakkan agar Tommy yang sudah berstatus tersangka segera ditahan.

Tommy merupakan calon besan eks PM Malaysia Najib Razak. Ia masih menghirup udara bebas meski menjadi tersangka penyuap mantan Karo Korwas PPNS Polri Brigjen Prasetijo Utomo dan mantan Kadiv Hubungan Internasional Irjen Napoleon Bonaparte.

Pengusaha yang tinggal di Tanah Abang, Jakarta Pusat, itu bersama Djoko Tjandra ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap penghapusan nama Djoko Tjandra dari daftar buron interpol atau red notice. Tommy dan Napoleon tidak ditahan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Awi Setiyono mengatakan, alasan tidak menahanan keduanya karena kewenangan penyidik. "Hak prerogatif dari penyidik terkait dengan syarat subjektif maupun objektif terkait penahanan," ujar Awi dalam jawabannya, akhir Agustus lalu.

Upaya suap yang dilakukan Tommy berawal pada April lalu. Tommy bertandang ke ruang kerja Prasetijo di lantai 12 Gedung Awaloedin Djamin Mabes Polri.

Tujuan Tommy membicarakan red notice buron kasus prngalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra. Prasetijo pun menjanjikan memperkenalkan dengan Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte.

Bulan berikutnya, Tommy dan Prasetijo sudah semobil. Di mobil itulah kabarnya Tommy menyerahkan bungkusan plastik berisi duit 20 ribu pecahan dolar AS atau setara Rp 200 juta.

Prasetijo sendiri yang mengantarkan Tommy menemui Bonaparte. Kedatangan mereka tertangkap kamera CCTV. Hal itu juga disampaikan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman.

"Ketika mendatangi ruangan NB (Napoleon Bonaparte) masih membawa tas tapi ke luarnya sudah tidak membawa tas," kata Boyamin. Ia menduga telah terjadi proses suap.

Pada penetapan para tersangka, Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan, Djoko Tjandra memberikan uang sebanyak 20 ribu dolar AS untuk mengurus surat jalan dan penghapusan red notice-nya.

"Barang bukti ada uang 20 ribu USD. Ada surat jalan, laptop dan rekaman cctv. Kemudian penetapan tersangka tersebut ada pemberi dan penerima (uang),” kata Argo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (14/8).

Pemberian uang tersebut terjadi saat Djoko Tjandra masih buron, lewat tangan Tommy. Keduanya memang kolega sejak era Orde Baru. Bahkan mereka berpartner dengan Setya Novanto di PT Era Giat Prima. Novanto kala itu masih menjabat Wakil Bendahara Partai Golkar.

Belum ditahannya Tommy menimbulkan banyak pertanyaan. Koordinator aksi FIB Lisman Hasibuan dalam orasinya mengatakan, Tommy sering menjual nama petinggi Polri, bahkan menjadi mafia kasus alias 'markus' di tubuh Korps Bhayangkara.

Lisman mengancam akan melakukan aksi lebih besar bila Polri gentar menangkap pengusaha yang sudah berstatus tersangka tersebut. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. cin94 @cin9416 September 2020 | 19:05:18

    wah calon besan najib..

Back to Top