Ruhanna Kuddus, Perempuan Jurnalis Pertama Jadi Pahlawan Nasional

publicanews - berita politik & hukumRuhanna Kuddus. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Padang - Perempuan jurnalis pertama Indonesia Ruhanna Kuddus ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Kepastian penganugerahan gelar tersebut telah resmi diterima oleh Pemprov Sumbar.

"Suratnya sudah disampaikan ke gubernur dan ahli waris," kata Kepala Dinas Sosial Sumbar Jumaidi di Padang, Kamis (7/11). Penganugerahan gelar akan dilakukan di Istana Negara pada Jumat besok.

Berdasar surat yang diterima, Jumaidi menambahkan, penetapan gelar pahlawan nasional diputuskan dalam pertemuan antara Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu (6/11).

Pemprov Sumbar telah mengusulkan sosok perempuan asal Koto Gadang, Kabupaten Agam, itu sebagai pahlawan nasional sejak tahun lalu.

Ruhanna Kuddus lahir di Koto Gadang, pada 20 Desember 1884. Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan yang berprofesi sebagai jurnalis.

Meski tidak mengenyam pendidikan formal, sejak usia belia ia sudah mengausai bahasa Belanda, Arab, Latin, dan Arab Melayu. Ruhanna hidup sezaman dengan RA Kartini.

Kiprahnya di dunia jurnalistik dimulai dari surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia (Jakarta) yang dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia.

Pada 10 Juli 1912, ia mendirikan surat kabar perempuan bernama Sunting Melayu. Jajaran redaksi koran itu diisi perempuan semua. Karya-karya jurnalistik Ruhanna tersebar di berbagai surat kabar kala itu.

Ia juga aktif melakukan pendidikan keterampilan kepada kaum wanita. Pada 11 Februari 1911, ia mendirikan Yayasan Kerajinan Amai Setia.

Ketika pindah di Bukittinggi, ia mendirikan sekolah Ruhanna School. Ia juga mengajari para wanita untuk wirausaha. Ruhanna juga mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan.

Ia diketahui mencetuskan penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Ruhanna tercatat memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Saat pindah ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatera. Ruhanna Kuddus wafat pada 17 Agustus 1972. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top