Remaja Myanmar Ini Bersaksi Militer Lebih Kejam dari Corona

publicanews - berita politik & hukumZeya (17), mantan relawan Covid-19, yang pernah disiksa dalam tahanan rezim militer. (Foto: Citizen Journalist via Myanmar Now)
PUBLICANEWS, Yangon - Hari-hari penyiksaan dalam tahanan junta tak akan pernah hilang dalam ingatan Zeya (17). Mantan relawan Covid-19 itu pernah dikubur hidup-hidup dengan tangan diborgol dan hanya leher yang menjulur di atas tanah.

Kepalanya dikepruk dengan sekop jika interogator militer merasa jawabannya 'salah'. Ia sempat hilang harapan ketika penyiksa memintanya berdoa untuk terakhir kali.

"Saya merasa semuanya akan berakhir dalam sekejap jika saya mati. Satu-satunya harapan saya adalah reinkarnasi kembali ke keluarga saya," kata Zeya kepada Myanmar Now, Selasa (20/7).

Dalam situasi hidup dan mati, mendadak seorang tentara lain datang dan mengatakan perlu menginterogasinya lagi. Zeya pun dikeluarkan dari lubang kubur.

Remaja kurus itu ditangkap pada 2 Mei lalu karena militer mencurigainya terlibat dalam serangan terhadap fasilitas junta di Yangon. Ia beruntung masih hidup setelah menghabiskan 10 hari di pusat interogasi di bekas ibu kota Myanmar.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), sampai 11 Juni junta telah menyiksa setidaknya 22 orang hingga mati sejak merebut kekuasaan pada 1 Februari.

Zeya sangat menyadari sejarah kejam tatmadaw, militer. Oleh karena itu ketika ditangkap, ia merasa ini akhir hidupnya. Namun, pertama-tama, dia harus melalui neraka penyiksaan.

"Mereka mengikat saya dan menutup mata saya, dan mulai memukuli saya tanpa henti," ia bercerita.

Myanmar Mirip Rumah Jagal, Rezim dan Sipil Baku Bantai

Hari demi hari, dia dipukul tanpa henti. Entah bagaimana dia bisa bertahan. Zeya mengatakan penyiksaan telah membuatnya menjadi tangguh. "Setelah disiksa berkali-kali dalam waktu yang sangat lama, saya tidak lagi takut mati," ujarnya.

Sebagai remaja, Zeya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan politik. Ia lebih senang membantu sesama, itulah sebabnya ia bergabung dengan relawan Covid-19 ketika wabah itu masuk ke Myanmar.

Kemudian militer melakukan kudeta. Seperti banyak relawan Covid-19 lainnya, ia memutuskan untuk menanggalkan baju alat pelindung diri (APD) dan maskernya dan memilih bergabung dengan massa aksi anti-kudeta.

Dia segera mengetahui bahwa musuh yang sekarang dia hadapi bahkan lebih kejam ketimbang corona. Sayangnya, pada sebuah malam yang gerimis pada Mei lalu tiba-tiba pasukan rezim menyerbu poskonya.

Semula ia dijebloskan ke Penjara Insein di Yangon, yang terkenal kejam. Sehari sebelum bebas, pada 9 Juli, ia dipindahkan ke Lapas Remaja. Seperti saat ditangkap, ia dibebaskan tanpa penjelasan.

Sehari setelah bebas, ia lari ke hutan di dekat perbatasan dengan Thailand. Ia tidak mau lagi ditangkap junta. Jahitan di kepalanya bekas dikepruk sekop masih sering berdenyut.

"Penyiksaan itu tidak terbayangkan. Itu membuat saya penuh dengan kebencian," ujarnya.

Ia kini bergabung dengan kelompok perlawanan sipil bersenjata. Zeya memegang pistol sekarang. "Ini adalah akhir permainan," katanya. "Saya tidak mudah ditangkap lagi. Saya harus melawan junta!" ia menegaskan. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top