Junta Tak Peduli Anak-Anak Myanmar

publicanews - berita politik & hukumKanak-kanak Myanmar dicat wajahnya untuk tolak bala dan dijauhkan dari kejahatan rezim militer. (Foto: Unsplash)
PUBLICANEWS, Sagaing - Pyo Wai Aung sedih setiap kali mendengar anak perempuannya yang berusia 5 tahun merintih sakit. Pecahan mortir masih bersarang di pelipisnya sejak malam 3 Juli lalu.

Pasukan rezim Myanmar tiba-tiba membombardir Desa Kalay, Wilayah Sagaing, dengan mortir dan peluru. Rumah Wai Aung jebol dan serpihan mortir menancap di dekat otak anaknya. Ia nyaris lumpuh.

Sudah dua pekan dokter tak bisa mengoperasi karena keterbatasan fasilitas medis rumah sakit. Wai Aung tidak punya uang untuk membawa anaknya ke rumah sakit di Mandalay.

"Kami harus ke Mandalay. Dokter mengatakan mereka tidak dapat mengidentifikasinya dengan rontgen biasa, harus dengan CT scan,” kata Wai Aung, seorang penggali sumur, kepada Myanmar Now.

Istrinya juga terkena pecahan peluru di punggung, tapi sudah pulih.

Menurut Komite Hak Anak PBB, kanak-kanak Myanmar rawan mengalami kekerasan sejak kudeta 1 Februari lalu. Data per Jumat (16/7) menunjukkan sebanyak 75 anak telah terbunuh dan sekitar 1.000 anak lainnya ditangkap secara sewenang-wenang.

"Anak-anak di Myanmar terkepung dan banyak yang tewas akibat kudeta militer,” kata Ketua Komite Mikiko Otani, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Aljazeera, Sabtu (17/7) siang.

Junta Melepas Bocah 5 Tahun, Ayahnya Bertanya: Ini Rezim Macam Apa?

Anak-anak mengalami kekerasan tanpa pandang bulu, penembakan acak, dan penangkapan sewenang-wenang setiap hari. ”Militer menodongkan senjata ke arah mereka, hal yang sama terjadi pada orang tua dan saudara mereka," Otani menambahkan.

Komite Hak Anak PBB yang terdiri dari 18 ahli independen memantau pelaksanaan Konvensi Hak Anak, yang ditandatangani Myanmar pada 1991.

Dalam pernyataannya, para ahli mengutuk keras pembunuhan anak-anak oleh junta militer dan polisi. "Beberapa korban dibunuh di rumah mereka sendiri," ujar pernyataan tersebut.

Komite juga melaporkan praktik penyanderaan anak ketika pasukan rezim tidak dapat menangkap orang tua mereka.

Kantor hak asasi PBB telah menerima laporan terpercaya bahwa junta menduduki rumah sakit, sekolah, dan lembaga keagamaan. Anak-anak yang terluka akibat serbuan militer tak bisa segera mendapatkan layanan medis, seperti dialami bocah perempuan 5 tahun dari Kalay tersebut.

"Saya tahu dia hanya akan selamat jika dioperasi di Mandalay. Tapi apakah militer akan menerimanya?" kata Wai Aung, sang ayah. "Lagi pula, saya tidak punya uang," ujarnya, masygul. (oca)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo18 Juli 2021 | 11:06:43

    Kejem amat ya? Gak mikir kalau itu bisa jadi keluarganya kali?

Back to Top