Tiongkok

Sudah 14 Bulan Jurnalis Chen Qiushi Hilang Usai Laporkan Kondisi Wuhan

publicanews - berita politik & hukumJurnalis warga Chen Qiushi (35) yang hilang setelah melaporkan wabah Covid di Wuhan, Tiongkok, 6 Februari 2020 malam. (Credit to: AP)
PUBLICANEWS, Wuhan - Sudah 14 bulan jurnalis warga (citizen journalist) Chen Qiushi (35) asal China tak ketahuan rimbanya. Terakhir ia mengirim pesan ke temannya pada Februari 2020, mengabarkan ia meliput di rumah sakit Covid-19 di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.

Qiushi dikenal sebagai pengungkap aib (whistleblower) yang membeberkan situasi Wuhan sebenarnya saat virus corona mewabah di sana. Wuhan adalah kota yang dipercaya sebagai asal virus yang kemudian mendunia itu.

Pada malam yang dingin di bulan Februari tahun lalu, Qiushi menenteng kamera untuk melaporkan langsung wabah corona di Wuhan. Video tentang tubuh-tubuh dan pasien bergeletakan di koridor, dan kekurangan peralatan medis, memberi gambaran pada dunia betapa buruknya kondisi Wuhan.

"Saya takut. Di depan saya ada virus. Di belakang saya ada kekuatan hukum dan administrasi China," katanya lewat siaran langsung di akun YouTube.

Pihak berwenang China karuan berang karena dipermalukan. Sejak itu Qiushi hilang, ada spekulasi ia 'dibungkam'. Pada akhir Maret 2021, muncul laporan Qiushi di bawah 'pengawasan ketat' di rumah orang tuanya di Qingdao, 600 mil dari Wuhan.

Tapi teman-temannya belum bisa mengkonfirmasi kebenarannya, mereka juga takut 'dibungkam' jika mengecek ke sana.

"Kami tidak tahu apa-apa tentang dia. Dia menghilang begitu saja," kata seorang temannya, Rabu (5/5). The Mirror merahasiakan identitasnya.

4 Orang Sudah Ditangkap Karena Laporkan Kondisi Wuhan Sesungguhnya

Sebelum menghilang, Qiushi mengatakan ia menerima beberapa panggilan telepon dari aparat. Mereka memintanya berhenti membuat video jurnalisme warga. Aparat menggertak mereka tahu dimana rumah orang tuanya.

"Saya bahkan tidak takut mati. Kamu pikir aku takut padamu, Partai Komunis!" Qiushi membalas gertakan tersebut, lewat YouTube.

Qiushi kemudian secara khusus meminta sang teman untuk mengubah kata sandi akun Twitternya jika dalam 12 jam ia tidak bisa dihubungi. "Dia sadar setiap saat bisa 'dihilangkan' seketika," sumber tersebut menambahkan.

Sang teman telah mengambil alih akun Twitter Qiushi yang memiliki hampir 340 ribu pengikut.

Ia terakhir mengunggah video pada 6 Februari 2020 malam. Saat itu ia tampak terguncang menerima panggilan telepon dari para pejabat partai, termasuk dari biro keamanan publik.

Setelah itu tak seorang pun teman bisa menghubunginya. Ibunya mengatakan lewat Twitter, ia kehilangan kontak Qiushi pada pukul 2 dini hari. "Saya khawatir dia 'dikarantina' secara paksa," ujarnya.

Teman-temannya, para jurnalis, dan kelompok hak asasi manusia pernah meminta Kementerian Luar Negeri AS untuk menyelidikinya. Tapi sampai sekarang Qiushi masih nihil. (oca)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. sidhawati @SIDHAWATI06 Mei 2021 | 11:37:52

    Semoga baik2x saja, atau memang sdh dibungkam.

    Beginilah nasib seorang, dlm menekuni pekerjaanya.

    Yg hrs diyakini. Kebenaran adalah yg benar.

Back to Top