Sadis, Militer Myanmar Membakar Demonstran Hidup-hidup

publicanews - berita politik & hukumMiliter Myanmar menyeret mayat seorang demonstran di Kota Yangon. (Foto: Myanmar Now)
PUBLICANEWS, Mandalay - Kekejaman junta militer dikabarkan telah melampaui batas. Laman Myanmar Now melaporkan militer kini menggunakan modus meneror warga dengan cara mengirimkan jasad keluarganya setelah menjadi abu atau tulang belulang.

"Tidak puas membunuh, rezim yang mengamuk itu telah beralih ke cara membakar mereka yang hidup dan yang mati," tulis laman independen itu, Rabu (7/4).

Ye Yint Naing baru berusia 15 tahun ketika dia meninggal di tengah aksi menolak kudeta militer. Sebuah peluru mengenai punggungnya. Semua orang di sekitarnya juga rebah karena peluru terus beterbangan. Tidak ada yang berani membantunya.

"Militer terus menembak," kakaknya mengenang. “Mereka menembak siapa saja yang mencoba bangun. Jadi dia hanya berbaring di sana selama sekitar dua jam."

Ye Yint Naing meninggal pada 27 Maret lalu, persis saat militer memperingati Hari Angkatan Bersenjata Myanmar, yang oleh demonstran disebut sebagai Hari Perlawanan Anti-Fasis.

Seperti umumnya rakyat Myanmar, Yint Naing turun ke jalan hari itu. "Jika tidak ikut dalam protes, dia tidak dapat menyebut dirinya sebagai penduduk asli Muse," kata ibunya, Moe Moe, merujuk pada kampung halamannya di Negara Bagian Shan, Myanmar utara.

Keesokan pagi, keluarga menerima apa yang tersisa darinya —bukan tubuhnya yang tak bernyawa, tapi setumpuk tulang hangus. Tentara telah menyeret mayat Yint Naing ke tempat kremasi bersama korban lainnya.

"Praktik membakar jenazah tak boleh dilakukan karena kami muslim," Moe Moe menegaskan.

Tentara Myanmar Tembak Bocah Perempuan Muslim di Pangkuan Ayahnya

Militer tidak pernah mau tahu asal-usul korban sebelum melakukan kremasi massal. Mereka hanya memberi label 'mayat tak dikenal' dan melemparnya tanpa upacara.

“Mereka membunuhnya secara brutal. Mereka setidaknya harus mengembalikan jasadnya kepada kami," ujar sang kakak.

Ada banyak laporan di seluruh negeri tentang mayat-mayat yang dihancurkan oleh militer sebelum keluarga dapat mengidentifikasi atau melakukan upacara keagamaan. Di kota Kalaw dan Aungban di Shan selatan, setidaknya 10 jenazah telah dikremasi tanpa sepengetahuan keluarga.

Kasus penemuan abu atau tulang belulang massa anti-kudeta terjadi hampir di seluruh kota Myanmar. Tidak ada warga yang berani menghentikan tentara saat membakar mayat pengunjuk rasa.

Aye Ko (40), warga Kotapraja Aungnyathazan, Mandalay, ditembak dadanya saat mencoba memadamkan api kremasi di pemakaman umum. Dalam kondisi masih hidup, tentara kemudian melemparkannya ke atas tumpukan ban yang terbakar. Tulang belulangnya tak bisa dikenali lagi.

Menurut berbagai lembaga sosial di Mandalay, setidaknya 10 korban kekejaman rezim hilang dengan cara seperti ini dalam beberapa pekan terakhir. Belum ada data kasus serupa di kota-kota lain. (oca)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah07 April 2021 | 23:32:04

    Tambah gila aja nih tentara. Gak ada atinya nih. Serem.

Back to Top