#Myanmar

Warga Melawan, Empat Tentara Myanmar Tewas Dilempar Bom

publicanews - berita politik & hukumTentara Myanmar membuat blokade kawat berduri untuk menghalangi massa anti-kudeta di Kota Kale, Wilayah Sagaing. (Foto: Khonumthung News)
PUBLICANEWS, Sagaing - Empat tentara Myanmar tewas ketika pengunjuk rasa antikudeta melemparkan peledak ke dalam truk militer pada Minggu (4/4) sore di Kota Tamu, dekat perbatasan dengan India. Penduduk melakukan perlawanan setelah junta militer menembaki mereka.

The Irrawaddy mengabarkan, 'pertempuran' antara penduduk dengan militer ini berlangsung sekitar dua jam. Demonstran menolak membuka barikade jalan, lalu tentara menembaki mereka dari atas truk.

"Tidak jelas siapa yang melempar peledak ke atas truk militer. Tapi empat tentara tewas," The Irrawaddy mengutip sumber yang disembunyikan identitasnya, Senin (5/4).

Dalam konflik militer-sipil di kota kecil di Wilayah Sagaing, Myanmar barat laut, ini belasan warga terluka. Tapi tidak ada yang tewas.

Warga Tamu dan Wilayah Sagaing umumnya mulai melawan junta sejak tentara menembaki secara brutal massa pembangkang sipil. Di wilayah ini relawan petugas medis Thinzar Hein (21) tewas di tangan militer, begitu pula dengan mahasiswa Ko Myo Min Aung. Hampir semuanya ditembak tepat di kepalanya.

Sejak 25 Maret lalu, pengunjuk rasa dan penduduk bersatu untuk melawan kebrutalan tentara. Mereka mempersenjatai diri dengan senapan rakitan, bom ikan, dan perisai.

Penyabung Nyawa Itu Akhirnya Roboh Diterjang Peluru Tentara

Kematian empat tentara kemarin menggenapi enam polisi yang tewas pada Jumat (2/4) pekan lalu. Saat itu polisi menyerang pemimpin aksi massa Thang Hou Gin di dekat kantor pemadam kebakaran Tamu. Hou Gin meninggal, lalu massa dan warga mengamuk dan membalas dengan senjata rakitan.

Menurut The Irrawaddy, selama 10 hari terakhir, setidaknya 14 tentara dan polisi tewas di Wilayah Sagaing di tengah aksi brutal mereka terhadap massa pengunjuk rasa. Warga membela diri dengan cara apapun.

"Penduduk Tamu dari segala usia mendukung pengunjuk rasa melawan polisi dan tentara yang sewenang-wenang," kata warga setempat.

Ia menegaskan seluruh penduduk Sagaing dan Magwe akan terus mempertahankan diri terhadap serangan junta militer. Di Kotapraja Kale dan Yinmarbin, tetangga Tamu, massa membekali diri dengan senjata api tradisional, panah, dan molotov.

Sejak kudeta militer pada 1 Februari, junta menggunakan peluru tajam dan granat untuk menumpas demonstrasi damai anti-rezim. Mulai pertengahan Maret, pengunjuk rasa di seluruh Myanmar membela diri dengan segala jenis senjata yang memungkinkan.

Hingga Senin pagi, setidaknya 564 orang tewas secara nasional dan lebih dari 2.600 orang ditahan junta militer. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo05 April 2021 | 22:43:14

    Tambah gawat nih. Makin ngamuk nih tentara. Rakyat sipil pasti jadi korban.

Back to Top