Medsos Terbelah Dua Kutub, Ada Apa dengan Myanmar?

publicanews - berita politik & hukumTentara Myanmar berorasi di atas mobil massa penentang kudeta militer di Monywa, Sagaing, Rabu (17/2) siang. (Foto: Twitter/@Myanmar_Now_Eng)
PUBLICANEWS, Naypyidaw - Situasi Myanmar di tengah kudeta militer makin membingungkan. Hari ini akun media sosial setempat viral dua unggahan yang saling bertentangan.

Publicanews melongok akun Twitter @Myanmar_Now_Eng hari ini, pada pukul 11.57 waktu setempat mereka mengunggah foto beberapa tentara bergabung dengan massa penentang kudeta. Tentara tersebut berseragam lengkap, namun ada pita merah di dadanya, simbol perlawanan terhadap kudeta.

"Tentara bergabung dalam protes antikudeta pada hari Kamis di Monywa, wilayah Sagaing. #WhatsHappeningInMyanmar," akun tersebut mencuit.

Sementara akun @mrattkthu menyebarkan foto dua biksu dengan baju khas oranye merusak mobil demonstran antimiliter. Keduanya membawa tongkat besi.

"Biksu nasionalis sekarang turun ke jalanan! Foto menunjukkan bahwa biksu nasionalis menghancurkan mobil pribadi di siang hari di dekat Pagoda Shwedagon. #WhatsHappeningInMyanmar," pemilik akun Mratt Kyaw Thu mencuit.

Kedua unggahan sama-sama menggunakan tagar #WhatsHappeningInMyanmar atau ada apa dengan Myanmar. Tapi isinya bertolak belakang.

Tentara adalah pihak yang menggulingkan pemerintahan yang sah di bawah Kanselir Aung San Suu Kyi dan Presiden U Win Myint. Sedangkan para biksu termasuk bagian dari massa penentang kudeta.

Militer Mainkan Politik Pecah Belah Etnis Myanmar

Agaknya telah terjadi perang opini diantara kedua kubu lewat media sosial. Mratt Kyaw Thu, jurnalis lepas untuk kantor berita AFP, menuding biksu yang merusak mobil demonstran penentang militer adalah biksu palsu. "Fake monks," katanya.

Tidak ada penjelasan apakah foto dua tentara yang berorasi di atas mobil massa di Monywa, kawasan Sagaing, adalah asli pendukung Suu Kyi.

AAPP melansir pada Kamis pagi, peretas telah menyerang situs-situs pemerintah. Sebuah kelompok yang menamakan diri Myanmar Hackers meretas web Bank Sentral, militer, stasiun TV militer MRTV, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan. "Kami berjuang untuk keadilan Myanmar," ujar kelompok peretas lewat laman Facebook.

Junta militer masih memberlakukan jam malam internet pada pukul 01.00-09.00 dan pemadaman listrik pada malam hari. Diduga pada jam-jam itulah terjadi saling retas antara sipil dan militer dengan memasukkan unggahan palsu.

"Whats happening in Myanmar?" aktor Lu Min bertanya lewat laman Facebook-nya, seraya menyerukan dukungan terhadap pembangkangan sipil.

Ya, apa yang sedang terjadi di Myanmar? Lu Min, bersama delapan selebritas setempat lainnya, kemudian ditangkap. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top