Tak Percaya Militer, Rakyat Myanmar Lakukan Pembangkangan Sipil

publicanews - berita politik & hukumSeorang demonstran mengacungkan poster menolak junta militer dalam aksi di Yangoon, Myanmar, Senin (8/2) kemarin. (Foto: EPA)
PUBLICANEWS, Naypyidaw - Rakyat Myanmar marah, kini mereka tidak peduli lagi dengan represi militer demi menuntut pembebasan Kanselir Aung San Suu Kyi. Sudah sepekan ini mereka melakukan protes di sejumlah kota utama menuntut pembebasan wanita yang dipanggil 'daw' atau bunda yang ditangkap pada Senin (1/2) pekan lalu tersebut.

Tanpa Suu Kyi, yang kembali menang pemilu 2020, rakyat Myanmar ibarat anak ayam kehilangan induk. "Setiap hari adalah mimpi buruk," kata Erina Oo (31), seorang pegawai pemerintah, seperti dikutip AFP, Selasa (9/2). "Ketakutan dan impian hancur saat militer menangkapi pemimpin kami," ia menambahkan.

Namun bagi Sebastian Strangio, penulis buku In the Dragon's Shadow: Southeast Asia in the Chinese Century, mustahil militer mau menyerah. "Sulit untuk melihat militer mundur," ujarnya.

Kemarin, militer hanya menembakkan water cannon untuk membubarkan puluhan ribu orang yang turun ke jalan-jalan di Ibukota Naypyidaw. Lalu malam hari, pimpinan junta militer Jenderal Min Aung Hlaing, tampil di televisi mengenakan seragam militer lengkap.

"Setelah masa darurat selesai akan digelar pemilihan umum multipartai yang bebas dan adil," katanya. Inilah penampilan pertama Jenderal Hlaing sejak melakukan kudeta pekan lalu.

Tapi rakyat Myanmar --dulu bernama Burma-- tidak percaya pemilu demokratis ala militer. Kemarahan juga dirasakan oleh para diaspora. Tom Tan (28) yang kini tinggal di Taipei, sangat khawatir negaranya akan kembali pada situasi 1998 silam ketika tentara menembaki ribuan demonstran prodemokrasi. Atau Revolusi Saffron 2007 yang memakan korban seribuan biksu ditangkap dan mati.

"Kita semua ingat hari-hari dalam kegelapan," ujar Tan.

Myanmar Dihantui Kudeta Militer, Aung San Suu Kyi Ditangkap

Myanmar kini tidak punya pemimpin yang bisa menjadi penggerak massa setelah Suu Kyi, Presiden U Win Myint, dan para pemimpin sipil dibui. Tatmadaw atau militer menerapkan jam malam mulai pukul 20.00 hingga 04.00. Dilarang berkumpul lebih dari lima orang. Hlaing berdalih militer mengambil alih kekuasaan lantaran pemilu November 2020 curang.

Namun ada harapan baru di balik kegelapan tersebut. Harapan itu bernama ponsel. Meskipun juga terjadi pemadaman listrik, Strangio mendorong setiap orang menjadi pemimpin dengan turut menyebarkan pesan perlawanan lewat ponsel terhadap junta militer.

Pembangkangan sipil telah dimulai di Myanmar. Para PNS, pekerja medis, anak-anak sekolah melakukan mogok. Lewat medsos, mereka menyerukan untuk melakukan mogok nasional.

"Kami tidak ingin anak-anak kami hidup di bawah pemerintahan militer," Erina Oo menegaskan dengan gagah. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah09 Februari 2021 | 23:01:08

    Militer oh miter.... haus kekuasaan.

Back to Top