Korea Utara

Bahkan Seorang Tiran pun Menangis Ketika Rakyatnya Lapar

publicanews - berita politik & hukumPemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyeka air matanya di tengah pidato pada parade militer, Senin (12/10). (Foto: tangkapan layar KCNA/Publicanews)
PUBLICANEWS, Pyongyang - Bahkan seorang tiran seperti Kim Jong-un (36) pun masih bisa menangis. Pemimpin Korea Utara itu menitikkan air mata saat meminta maaf kepada rakyatnya yang mengalami kehidupan serba sulit di tengah pandemi Covid-19.

Jong-un terlihat emosional ketika berpidato pada parade militer memperingati 75 tahun berkuasanya Partai Komunis. Ia berbicara tentang kondisi Korut yang saat ini menghadapi tantangan berat, bukan hanya karena virus Corona, melainkan juga bencana topan dan sanksi ekonomi dari dunia. Dikabarkan banyak rakyat Korut kelaparan dan makin miskin.

Suaranya tiba-tiba tercekat. Ia terisak. "Rakyat telah menaruh kepercayaan setinggi langit dan sedalam laut kepada saya, tapi saya gagal untuk membebaskan rakyat dari kesulitan hidup mereka," kata Jong-un, seperti dikutip Kantor Berita Korut KCNA, Senin (12/10).

Ia berhenti sesaat, melepas kacamata, lalu menyeka air mata. "Saya sangat menyesal untuk itu," ia menambahkan.

Pria tambun tersebut kemudian mengusap lensa kacamatanya. Terlihat sejumlah petinggi militer dan pejabat partai hanyut dalam suasana sedih, mereka juga menangis. Cucu pendiri Korut Kim Il-suk dan penerus tahta ayahnya Kim Jung-il itu mengatakan belum pernah Korut menghadapi bencana bertubi seperti saat ini.

Sejumlah analis menilai tetesan air mata Jong-un cermin tekanan yang ia hadapi sangat berat.

"Meskipun saya dipercaya memikul tanggung jawab penting untuk memimpin negara ini meneruskan perjuangan kamerad besar Kim Il-sung dan Kim Jong-il, dengan kepercayaan semua orang, ternyata usaha keras dan ketulusan saya belum cukup untuk menyingkirkan rakyat dari kelaparan," ujar Jong-un, seperti tampak dalam video yang juga Publicanews tonton melalui kanal YouTube KCNA.

Sekeranjang Bunga Jokowi untuk Kim Jong-un

Jong-un terlihat bukan seperti gambaran seorang diktator di atas podium itu. Direktur Divisi Korut pada Institut Korea untuk Unifikasi Nasional Hong Min menjelaskan pada Korea Times, Jong-un benar-benar dalam tekanan berat. “Penting untuk mengetahui mengapa dia sampai menitikkan air mata pada kesempatan seperti itu," katanya.

Menurutnya, rentetan kejadian belakangan bisa dipakai untuk memahami airmata diktator termuda sepanjang sejarah Korut itu. Hong Min merujuk spekulasi kesehatan Jong-un yang buruk akhir-akhir ini pasca operasi jantung. Lalu ia dikabarkan sempat terjangkit Covid-19.

"Ia menjadi sangat rapuh," ujar Hong Min.

Menurut sebuah studi Universitas Wina, diyakini 60 persen warga Korut, sekitar 15 juta orang, hidup dalam kemiskinan total. Produk Domestik Brutto (PDB) per kapita diperkirakan 790 dolar AS --bandingkan dengan PDB Indonesia 2019 yang 4.160 dolar AS atau setara Rp 61,3 juta.

Analis Xu Tianran asal Tiongkok mengatakan, Korut mengalami banyak pukulan sepanjang 2020 ini. "Kim sedang mengirimkan pesan bahwa bahkan seorang pemimpin tiran pun merasakan banyak tekanan atas kepemimpinannya," ia menegaskan.

Ironisnya, Kim Jong-un dan elit Partai Komunis sering digambarkan hidup dalam kemewahan. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top