Pembelot Kembali ke Korut Setelah Perkosa Wanita di Korsel

publicanews - berita politik & hukumBendera Korut berkibar di garis perbatasan dengan Korsel di Kota Kaesong. (Foto: Reuters)
PUBLICANEWS, Seoul - Korea Utara menyembunyikan pembelot yang kembali ke sebuah tempat yang dirahasiakan. Pria yang hanya diidentifikasi dengan nama marga Kim (24) itu kembali ke Korut secara diam-diam setelah tersandung kasus pelecehan seksual di Korsel.

Penjaga perbatasan Korut menangkapnya pada Sabtu (25/7) lalu di sebuah gorong-gorong Sungai Han, sungai yang membelah Korea menjadi Utara dan Selatan. Kim kemudian disekap di sebuah tempat di Kota Kaesong dengan alasan terjangkit Covid-19.

Pemimpin Korut Kim Jong-un buru-buru memerintahkan menutup Kaesong dengan alasan kota itu telah disusupi virus Corona. "Saat ini sepertinya virus sudah masuk. Karena itu kami langsung memblokir akses ke Kaesong mulai hari ini," kata Jong-un, seperti dikutip Korean Central News Agency, kantor berita resmi Korut.

Kepala Militer Korsel Park Han-ki mengatakan di hadapan parlemen, hari ini, bahwa pria dengan tinggi 163 cm itu kembali ke Korut dengan memotong pagar kawat berduri di ujung gorong-gorong. "Ia mengambil jalan yang sama saat membelot ke Korsel pada 2017," ujar Jenderal Han-ki, sebagaimana dikutip Kantor Berita AFP, Selasa (28/7). Kim, ia menambahkan, diduga telah mempersiapkan pelariannya kembali ke negaranya pada 19 Juli.

Menurut Kantor Berita Korsel Yonhap, penyelidik militer Korsel menemukan tas milik sang pembelot yang ditinggalkan di Pulau Ganghwa, sebelah barat Seoul. "Kami melihat jejak ia menyeberang dari Pulau Ganghwa," ujar Juru Bicara Kepala Staf Gabungan Militer Kotsel Kim Jun-rak.

Kim adalah warga asli Kaesong, kota berpenduduk 300 ribu jiwa. Tidak seperti umumnya warga Korut yang membelot lewat RRT, Kim menyeberangi Sungai Han pada 2017 untuk pergi ke Selatan.

Dalam sebuah tayangan video di kanal YouTube yang dibuat sesama pembelot Kaesong, Kim mengatakan pergi ke Korsel untuk mencari peruntungan di tengah kehidupan ekonomi yang sulit.

Setelah melewati pagar kawat berduri, ia harus berhadapan dengan ladang ranjau sebelum mencapai Sungai Han di Selatan. "Saya tetap bersembunyi selama sekitar tiga jam," katanya dalam video tersebut. Ia hanya berbekal sekerat roti.

Ia kemudian berenang mengikuti lampu di tepi selatan sungai. Ketika mencapai daratan di Selatan, ia berteriak minta tolong pada tentara penjaga perbatasan Korsel.

Sedikit yang diketahui tentang bagaimana Kim mencari nafkah selama di Korsel. Menurut sebuah sumber Reuters, Kim berutang 20 juta won, sekitar Rp 242 juta, kepada sesama pembelot selama tinggal di Korsel.

"Dia pernah menyatakan keinginannya untuk menjadi dosen seperti banyak pembelot lainnya, tetapi itu tidak pernah terjadi," kata sumber yang dirahasiakan identitasnya itu.

Kim lari kembali ke negaranya diduga karena terjerat kasus pelecehan seksual. Seorang wanita 20 tahun sesama pembelot melaporkannya ke polisi pada 12 Juni. Kim sempat diperiksa pada 21 Juni, tapi ia membantah memperkosa.

Pada 19 Juli, wanita tersebut kembali melapor ke polisi karena diancam Kim. Kepada temannya, Kim mengatakan berencana melarikan diri ke Korut. Surat perintah penangkapan Kim dikeluarkan dua hari kemudian, tetapi ia keburu kabur. Korut mengumumkan penangkapan Kim pada Sabtu (25/7).

Para pejabat kesehatan Korsel mengatakan tidak ada tanda-tanda Kim terinfeksi Covid-19 sebelum meninggalkan rumahnya. Dua orang yang berhubungan dekat dengannya telah dinyatakan negatif Corona. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top