Tiongkok

4 Orang Sudah Ditangkap Karena Laporkan Kondisi Wuhan Sesungguhnya

publicanews - berita politik & hukumZhang Zan (37), mantan pengacara yang jadi pegiat media sosial, ditangkap karena menulis kondisi Wuhan, Tiongkok, yang sesungguhnya. (Foto: Handout)
PUBLICANEWS, Shanghai - Benarkah Tiongkok sukses menangani Covid-19, seperti digembar-gemborkan? Tanyakan itu pada Zhang Zan (37), citizen journalist atau jurnalis warga, yang ditangkap gara-gara membuat live streaming dari Wuhan, tempat pandemi yang merongrong dunia itu bermula.

Kini, mantan pengacara tersebut meringkuk di tahanan polisi Distrik Pudong, Shanghai, atas tuduhan membuat gangguan publik. Zhang tak hanya mengunggah video situasi Wuhan, ia juga menulis artikel kritis pada Februari lalu.

Keluarganya baru dikabari pihak berwenang pada Jumat (19/6) pekan lalu. Alasan polisi, Zhang telah 'membuat kegaduhan dan memprovokasi'. Tuduhan semacam ini kerap digunakan oleh pihak berwenang Tiongkok untuk menangkap para pembangkang.

"Saya sangat khawatir tentang kesehatannya dan kondisi sel tahanan, ibunya sangat sedih," ayah Zhang (63), yang menolak menyebutkan namanya, mengatakan melalui telepon kepada South China Morning Post, Selasa (23/6) malam. "Kami tidak memiliki koneksi atau uang untuk mengeluarkannya --kami sama sekali tidak berdaya," ia menambahkan.

Zhang, warga Shanghai, melakukan perjalanan ke Wuhan pada awal Februari. Ia membuat siaran langsung apa yang dilihatnya di kota itu melalui Twitter, YouTube, dan platform media sosial lainnya. Twitter dan YouTube diblokir di China.

Zhang juga menulis sebuah artikel soal tindakan represif pemerintah terhadap warga. Ia mempertanyakan bagaimana pihak berwenang telah menutupi parahnya kondisi pandemi Covid-19 sesungguhnya dan sensor terhadap media arus utama.

Sebelum Zhang, otoritas Tiongkok telah menahan tiga jurnalis warga lainnya di Wuhan. Mereka adalah Li Zehua, yang hilang dua bulan dan baru muncul akhir April lalu.

Kemudian Chen Qiushi, mantan pengacara HAM, yang melakukan perjalanan ke Wuhan pada akhir Januari, untuk melaporkan situasi buruk di sana. Keberadaannya tetap tidak diketahui hingga kini, bersama dengan vlogger terkenal Fang Bin.

Zhan Jiang, pensiunan profesor jurnalisme dan komunikasi di Universitas Studi Asing Beijing, mengatakan jurnalis warga tidak memiliki perlindungan hukum di Negeri Tirai Bambu. Pihak berwenang menggolongkan mereka sebagai 'pengacau'.

"Tidak ada hukum yang bisa digunakan untuk membela mereka," kata Zhan. "Mereka juga dipandang sebagai orang terbuang secara sosial. Hampir tidak ada orang hari ini yang menghubungkan kasus ini dengan kebebasan berbicara."

Ia menegaskan, pemerintah sukses melakukan propaganda bahwa informasi paling sahih berasal dari media pelat merah. "Ini adalah hasil dari propaganda dan sensor pemerintah selama bertahun-tahun," ujar Zhan. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah28 Juni 2020 | 15:30:29

    ngeri ya.... covidnya maupun pulisinya

Back to Top