Aktif Laporkan Demo Hongkong, Yuli Riswati Dipulangkan ke Indonesia

publicanews - berita politik & hukumYuli Riswati saat menerima penghargaan Taiwan Literature Award for Migrants 2018. (Foto: Taiwan Literature Awards)
PUBLICANEWS, Jakarta - WNI Yuli Riswati akhirnya dipulangkan ke Tanah Air setelah sempat ditahan 28 hari di Hong Kong. Pelaksana tugas juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah mengatakan, pemulangan Yuli karena melebihi izin tinggal (overstay). Hari ini ia telah dideportasi ke Surabaya, Jawa Timur.

Faizasyah mengatakan, pelanggaran izin tinggal merupakan kasus pidana. Yuli telah menjalani sidang pada 4 November lalu dan divonis 1 tahun dan denda maksimal 50 ribu dolar Hong Kong.

Dalam sidang tersebut hadir Konsul Jenderal RI di Hong Kong. "KJRI sejak awal mengikuti kasus ini dan selalu berupaya memberikan bantuan, namun yang bersangkutan selalu menolak dibantu oleh KJRI," begitu bunyi pernyataan KJRI Hong Kong, Senin (2/12).

KJRI menjelaskan, Yuli sebagai pekerja imigran kerap membuat tulisan dan mengirimkannya ke sejumlah media Hong Kong, termasuk Suara Hong Kong News.

Sementara itu, Koordinator regional Federasi Pekerja Domestik Internasional (IDWF) Fish Ip menjelaskan, Yuli menghadapi praktik tak lumrah dari Departemen Imigrasi Hong Kong.

"Jelas, ini adalah tekanan politik terhadap Yuli karena tulisannya, karena dia berbicara untuk pengunjuk rasa Hong Kong," ujar Fish dalam keterangannya, Senin ini.

AJI Kecam Aksi Penembakan Polisi Hongkong terhadap Veby Indah

Menurutnya, Yuli memberi perhatian atas isu unjuk rasa menentang rancangan Undang-undang Ekstradisi. "Ia pergi ke aksi massa untuk memotret dan menulis tentang yang terjadi, supaya orang Indonesia paham tentang kondisi Hong Kong," Fish menjelaskan.

Dalam setiap tulisannya, penerima Taiwan Literature Award for Migrants 2018 ini menggunakan nama pena Arista Devi. Ia kerap mengirimkan tulisan di media untuk orang Indonesia di Hong Kong bernama Suara. Media ini juga memperkerjakan wartawan Veby Mega Indah yang tertembak saat meliput aksi demo, pada 2 Oktober 2019 lalu.

Wanita berhijab itu juga bekerja sebagai perawat lanjut usia sejak 12 Januari 2019. Namun pada 23 September 2019, ia ditangkap aparat imigrasi setempat di rumah majikannya yang juga menjadi tempat tinggal Yuli.

Petugas imigrasi menangkap dengan dalih overstay. Menurut Kepala Federasi Pekerja Domestik Hong Kong (FADWU) Dang, selama ini Imigrasi selalu memperbolehkan pekerja untuk memperbarui visa tanpa halangan.

Yuli merupakan WNI kedua yang menjadi korban terkait demo di Hong kong. Sebelumnya Veby yang pada 29 September 2019 tertembak matanya saat meliput kerusuhan. Veby ketika itu meliput bersama jurnalis lainnya. Proyektil tertanam di matanya yang membuatnya buta. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top