Penyidik KPK Stepanus Diduga Juga Bermain dalam Kasus Walikota Cimahi

publicanews - berita politik & hukumPenyidik KPK Ajun Komisaris Polisi Stepanus Robin Pattuju, tersangka penerima 'uang tutup kasus'. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Penyidik KPK Ajun Komisaris Polisi Stepanus Robin Pattuju agaknya tak hanya 'bermain' dalam kasus jual beli jabatan di lingkungan Pemkot Tanjungbalai, Sumatera Utara. KPK menduga Stepanus juga pernah menjanjikan tidak menaikkan perkara yang menjerat Walikota Cimahi Ajay Muhammad Priatna ke penyidikan.

Kemarin, penyidik meminta keterangan Ajay dan dua saksi swasta untuk mendalami penyalahgunaan wewenang Stepanus. Kedua saksi swasta adalah Radian Azhar dan Saiful Bahri.

"Tim Penyidik melakukan pendalaman melalui keterangan para saksi tersebut terkait informasi pengurusan permasalahan hukum Ajay M Priatna yang diduga dilakukan oleh pihak yang mengaku sebagai penyidik KPK," ujar Plt Jubir KPK Ali Fikri dalam rilisnya, Jumat (7/5).

Dalam sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (19/4) lalu, Ajay Pmengaku dimintai uang Rp 1 miliar oleh oknum yang mengaku dari KPK. Uang itu diperlukan untuk meredam operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

Ali menjelaskan, KPK terus mendalami setiap informasi adanya dugaan penerimaan sejumlah uang oleh tersangka Stepanus maupun pihak-pihak lain yang mengatasnamakan penyidik KPK dengan dalih dapat membantu penyelesaian perkara.

Ajay sendiri terjaring OTT pada 27 November 2020 dalam kasus dugaan suap perizinan RS Kasih Bunda. Saat ini ia sedang menjalani proses sidang di Pengadilan Tipikor Bandung.

Adapun Stepanus adalah tersangka dugaan menerima 'uang tutup kasus' dari Walikota Tanjungbalai M Syahrial. KPK menduga Stepanus telah menerima Rp 1,3 miliar dari total Rp 1,5 miliar.

Selain itu, KPK menduga Stepanus pada Oktober 2020 sampai April 2021 juga menerima uang dari pihak lain melalui rekening Riefka Amalia sebesar Rp 438 juta. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top