KPK Bantu Polri Usut Dugaan Merintangi Penyidikan Djoko Tjandra

publicanews - berita politik & hukumKomisi Pemberantasan Korupsi. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Buron Djoko Soegiarto Tjandra diduga menebar uang suap kepada sejumlah pihak untuk membantunya selama di Indonesia dan kemudian keluar negeri lagi. Untuk mendalami dugaan tersebut, KPK berkoordinasi dengan penegak hukum lainnya.

Djoko maupun pengacaranya bisa dijerat dengan pasal menghalang-halangi penyidikan atau obstruction of justice.

"Kami akan terus berkoordinasi dan mensupervisi penanganan pelarian DT (Djoko Tjandra) oleh Polri, sejauh ini Polri sangat terbuka dan mempersilakan KPK untuk terus berkoordinasi," ujar Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron kepada media, Jumat (31/7).

Koordinasi dilakukan melalui Kedeputian Penindakan, yang akan berkomunikasi dengan Bareskrim Polri.

Seperti diketahui Djoko Tjandra adalah terpidana kasus korupsi hak tagih atau cessie Bank Bali pada Oktober 2008, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis bebas Djoko. Kejagung kemudian menempuh Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA).

Oleh MA, pemilik Mulia Group itu diganjar dua tahun penjara dan denda Rp 15 juta. Namun sehari setelah putusan MA, Djoko terbang ke Papua Nugini dan dikabarkan telah menjadi warga negara sana.

Bank Bali adalah salah satu obligor dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Dalam vonisnya, MA juga memutuskan uang Djoko Tjandra di Bank Bali sebesar Rp 54 miliar dirampas untuk negara.

Dalam video pertemuan yang diunggah akun Twitter @xdigeeembok, Anita Dewi Kolopaking, pengacara Djoko Tjandra, mengakui bertemu Kepala Kejaksaaan Negeri Jakarta Selaran. Namun ia keberatan dengan narasi yang ditulis pemilik akun el diablo tersebut.

Anita diketahui ikut mengantar Djoko S saat membuat KTP di Kelurahan Grogol Selayan, Jakarta Barat.

Menurut @xdigeeembok, Anita sangat berperan membantu Djoko saat berada di Jakarta. Bahkan, sang taipan harus merogoh kocek sekitar Rp 4 miliar untuk menyogok aparat dan biaya bantuan hukum.

Anita telah dicekal bepergian ke luar negeri selama 20 hari sejak 22 Juli 2020. Ia diduga memfasilitasi perjalanan Djoko S Tjandra ke Jakarta dan Pontianak, Kalimantan Barat. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top