Penyerangan Novel Baswedan Dilatari Dendam Kasus Sarang Burung Walet

publicanews - berita politik & hukumTerdakwa Rahmat Kadir Mahulette dalam sidang kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan di PN Jakarta Utara. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Tim penasihat hukum kedua terdakwa anggota Brimob Polri kembali berdalih kliennya tidak bermaksud menganiaya penyidik KPK Novel Baswedan. Penasihat hukum mengatakan kliennya dendam karena Novel dianggap tidak ksatria saat masih menjadi polisi aktif.

"Terdakwa tidak mempunyai maksud atau mens rea terhadap saksi korban," kata salah satu penasihat terdakwa dalam pembacaan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (29/6).

Cerita yang dimaksud adalah saat Novel bertugas di Polres Bengkulu pada 1999-2004. Novel pernah menangani pencurian sarang burung walet.

Menurut penasihat hukum terdakwa Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, dalam kasus di Bengkulu itu menyebabkan kematian dan cacat tetap pelaku pencurian. Perkara lama itulah yang dianggap Novel tidak ksatria.

"Inilah yang membuat terdakwa menyiram air aki dicampur air ke tubuh korban," ujarnya, tanpa menjabarkan hubungan kasus Bengkulu dengan penyerangan terhadap Novel oleh anggota Brimob tersebut.

Oleh karena itu pembela dari Tim Divisi Hukum Mabes Polri itu meminta publik berterima kasih kepada kliennya karena bersikap berani dan jujur. "Karena sudah mempertanggungjawabkan semua perbuatannya," ia menegaskan.

Penasihat hukum terdakwa juga membantah replik jaksa penuntut umum (JPU) pekan lalu yang menilai penganiayaan kliennya sudah direncanakan lebih dulu.

"Terdapat kekeliruan penafsiran untuk membuktikan hubungan antara Rahmat Kadir dan Ronny. Rahmat merupakan pelaku tunggal. Sementara Ronny dipergunakan sebagai alat," ia menjelaskan.

Duplik ini disampaikan agar mendapatkan gambaran utuh serangkaian fakta hukum selama persidangan. Kuasa hukum mengatakan berkomitmen menjalankan tugas secara objektif agar sidang memperoleh perspektif lengkap, jelas, dan terang terhadap dakwaan.

Hakim Ketua Djumyanto menyatakan sidang vonis akan dibacakan dua pekan mendatang. "Majelis hakim telah sepakat dan bermusyawarah untuk putusan nanti akan diagendakan pada Kamis (16/7)," ujarnya. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top