Mafia Kasus

Mangkir Terus, KPK akan Jemput Paksa Nurhadi?

publicanews - berita politik & hukumNurhadi Abdurahman. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Ada kemungkinan KPK menjemput paksa Nurhadi Abdurahman jika terus mangkir dari pemeriksaan. Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) itu dua kali tidak datang meskipun surat panggilan telah diterima.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, hal yang sama terjadi pada Rezky Herbiyanto, menantu Nurhadi. Keduanya telah dipanggil secara layak sesuai ketentuan hukum.

"Penyidik akan segera melakukan upaya sesuai tahapan hukum acara kepada keduanya," ujar Ali Fikri saat dikonfirmasi, Minggu (2/2).

Namun kapan KPK melakukan penjemputan paksa tersebut, Ali Fikri belum bisa masih mengungkapkan sekarang.

"Karena ini bagian dari penanganan perkara maka tindakan penyidik tersebut belum bisa kami sampaikan secara detail," katanya.

Senin (27/1) lalu penyidik melayangkan panggilan kedua kepada Nurhadi, Rezky, dan satu tersangka lagi yakni Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto. Nurhadi dan Rezky tidak datang tanpa penjelasan, sedangkan Hiendra meminta penjadwalan ulang.

Dalam perkara ini, KPK menduga Nurhadi dan menantunya Rezky menerima suap dan gratifikasi dengan total Rp 46 miliar dalam kasus mafia perkara di MA tahun 2011-2016.

Suap tersebut mereka terima untuk mengurus dua perkara perdata di MA. Pertama, melibatkan MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara. Kemudian perkara perdata sengketa saham MIT dengan nilai suap Rp 33,1 miliar.

Adapun terkait gratifikasi, tersangka Nurhadi melalui menantunya Rezky dalam rentang Oktober 2014–Agustus 2016 diduga menerima uang total Rp 12,9 miliar. Uang untuk penanganan sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian.

Nurhadi dan Rezky lantas disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-undang Pemberantasan Tipikor jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 UU yang sama jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. (han)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Tukang Komen @pemberiKomentar03 Februari 2020 | 07:15:40

    Bukannya si nurhadi ini sdh tersangka? Ya sudah di bui aja, toh emang tdk kooperatif manusianya.
    Apa krn banyak duit?

Back to Top