Tangis Rommy Pecah, Rindu Anak dan Istri

publicanews - berita politik & hukumMantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (13/1). (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (Rommy) membacakan pledoi dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (13/1). Di akhir nota pembelaannya, ia menangis saat membaca puisi untuk istri dan anak semata wayangnya.

“Kurang lebih sepuluh bulan saya ditahan. Ini menjadi pelajaran hidup paling berharga dalam hidup saya. Yang paling menderita secara batin tentunya adalah anak dan istri saya,” ujar Rommy dalam sidang yang disesaki dengan anggota keluarga, pengusus PPP, hingga teman sekolah.

Dalam sidang itu, tidak sedikit pengunjung yang menyeka air mata saat Rommy membacakan pusi berjudul 'Khadijahku' yang dipersembahkan ke sang istri, dan 'Dzuhurku Diliput Sendu' untuk anak perempuannya.

“Yang Mulia , terakhir, izinkan dengan segala kerendahan hati, dan menimbang seluruh fakta persidangan, saya memohon Yang Mulia untuk membebaskan saya dari segala tuduhan, memulihkan seluruh martabat dan kehormatan saya, serta mengembalikan saya kepada anak dan istri saya yang sampai hari ini tetap saya larang untuk hadir di majelis ini,” ujar Rommy.

Dalam pledoi berjudul 'Deportasi Berbaju Penegakan Hukum' Rommy menilai ia menjadi korban KPK karena lembaga rasuah itu ingin mengejar rating. "Saya menjadi korban interpretasi hukum yang tidak tepat, di tengah-tengah genderang perang yang ditabuh dalam organisasi yang saya pimpin menghadapi Pemilu," katanya.

Anggota DPR ini mengatakan tuntutan jaksa sebagai pengungkapan fakta imajiner. Ia mencontohkan jaksa menyebutnya bertemu dengan eks Kepala Kanwil Kemenag Jatim Haris Hasanuddin di rumahnya di Condet, Jakarta Timur, 17 Desember 2019.

Rommy membantah terjadi pertemuan saat itu. “Pertemuan saya dengan Haris dinyatakan terjadi, atas dasar WA saya ‘ok’. Sementara Haris dalam kesaksiannya menyatakan lupa apakah tanggal 17 Desember 2018 bertemu saya di kediaman,” kata Rommy menjelaskan.

Ia juga menegaskan tidak pernah melakukan intervensi terhadap Menteri Agama Lukam Hakim Saefuddin. “Tuduhan ini didasarkan atas WA saya kepada Haris yang berbunyi ‘harus langsung B1’. Sepanjang persidangan, penuntut umum tidak mampu membuktikan, bagaimana cara saya ‘memerintahkan’ Lukman Saifuddin," ia menambahkan.

Rommy ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KKP pada 15 Maret 2019 lalu. Jaksa menjadikan Rommy sebagai terdakwa kasus jual beli jabatan. Ia dituntut 4 tahun penjara dan diwajibkan membayar denda Rp 250 juta subsider 5 bulan kurungan.

Jaksa meyakini Rommy melanggar Pasal 11 UU Tipikor Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP. (feh)

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top