Lombok Tengah

Mediasi IRT Lempar Pabrik Rokok Gagal, Begini Kronologinya

publicanews - berita politik & hukumKadivhumas Polri Irjen Argo Yuwono di Mabes Polri, Selasa (23/2). (Foto: Divhumas Polri)
PUBLICANEWS, Jakarta - Kasus pelemparan gudang rokok oleh 4 ibu rumah tangga (IRT) di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menuai polemik. Banyak pihak menyayangkan sikap Polri yang menahan empat IRT yang membawa dua balita karena masih membutuhkan ASI.

Menurut Kadivhumas Polri Irjen Argo Yuwono, Kapolres Lombok Tengah telah mengupayakan mediasi. "Telah dilakukan mediasi sebanyak 9 kali oleh Kapolres Lombok Tengah, namun tidak berhasil," kata Argo kepada wartawan di kantornya, Selasa (23/2).

Berkas perkara kasus tersebut sudah lengkap atau P21 pada 3 Februari 2021. Kemudian pada 16 Februari 2021 dilakukan tahap 2, yakni penyerahan tersangka dan barang bukti ke kejaksaan. "Selama proses penyidikan para tersangka tidak ditahan," ujar Argo.

Ia mengatakan Polri sudah melakukan koordinasi dengan Kajari dan Ketua Pengadilan Negeri Lombok Tengah untuk melakukan sidang secara virtual.

Kasus ini bermula dari penolakan warga Dusun Eat Nyiur, Desa Wajageseng, atas beroperasinya UD Mawar Putra karena menimbulkan pencemaran lingkungan berupa aroma bahan kimia yang sangat menyengat. Menurut warga, pencemaran udara itu berpotensi menimbulkan sesak napas, batuk, dan penyakit lainnya yang membahayakan kesehatan warga.

DPR Prihatin, 4 Ibu Ditahan karena Memprotes Pabrik Tembakau

Terjadi mediasi antara warga dengan pimpinan UD Mawar Putra Suardi. Pihak pabrik bersedia mengobati warga yang diduga sakit akibat bau zat kimia tersebut. Pada 10 Agustus 2020, UD Mawar Putra melapor ke Polsek Kopang karena ada pelemparan ke atap rumah Suardi oleh Rahmatullah. Peristiwa itu membuat perdamaian batal.

Pada 8 September 2020 berlangsung hearing di Kantor DPRD Kabupaten Loteng. Warga meminta UD Mawar Putra ditutup karena menyebabkan polusi udara di Dusun Eyat Nyiur. Dua hari kemudian, hearing lanjutan di kantor DPRD Kabupaten Loteng membahas legalitas yang dimiliki oleh UD Mawar Putra.

Pihak DPRD Kabupaten Loteng, LSM Lira, dan Kades Wajageseng mengecek ke lokasi pabrik, namun tidak ada kegiatan produksi rokok serta bau atau aroma yang mengganggu. Beberapa hari kemudian beredar video dari Nurul Hidayah, warga Dusun Eyat Nyiur, meminta tolong Presiden agar UD Mawar Putra segera ditutup karena mengancam kesehatan warga.

"30 September 2020 pukul 10.00 WITA, telah berlangsung pertemuan antara Komisi II DPRD Kabupaten Loteng, Camat Kopang, dan Kades Wajageseng guna membahas permasalahan yang terjadi. Komisi II DPRD Kabupaten Loteng meminta untuk segera dilakukan mediasi kembali," Argo menjelaskan.

Pada 11 Oktober 2020 telah dilaksanakan mediasi di Polsek Kopang, namun tidak menghasilkan kesepakatan.
Mediasi di tingkat Polres pun gagal. Akibatnya terjadi aksi pelemparan batu ke atap gudang UD Mawar Putra yang membuat para pekerja takut dan tidak bekerja. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke Polres Lombok Tengah. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top